
RollingStock.ID – PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) memandang prospek industri kelapa sawit di sepanjang 2026 tetap dipengaruhi berbagai tantangan eksternal, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga perubahan kebijakan perdagangan. Namun, perseroan meyakini implementasi program biodiesel B50 bisa menjadi penopang utama stabilitas harga dan permintaan domestik.
Manajemen CBUT mengungkapkan, saat ini ketidakpastian pasar dipengaruhi konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran. Kondisi ini dinilai berdampak pada peningkatan biaya logistik dan berpotensi mempengaruhi rantai pasok industri sawit. Perseroan juga menyoroti rencana penunjukan eksportir tunggal yang bisa menjadi pengubah lanskap industri sawit nasional.
“Kebijakan ekspor satu pintu berpotensi menjadi game changer bagi industri sawit nasional, dengan dampak signifikan pada struktur perdagangan dan rantai pasok, proses ekspor maupun pembentukan harga, serta dinamika produsen,trader dan pelaku hilir,” demikian disampaikan CBUT dalam materi Public Expose, Kamis (11/6).
Pada sisi lain, keberlanjutan program biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dianggap bisa menjadi katalis positif bagi industri. Program tersebut diperkirakan mampu menciptakan tambahan permintaan minyak sawit domestik, mendukung penguatan harga seiring dengan ketatnya pasokan ekspor dan menjaga stabilitas pasar di tengah tekanan eksternal.
Manajemen CBUT mencatat, tingginya harga minyak mentah akibat situasi geopolitik memberikan sentimen positif bagi sektor energi danbisa mendorong adopsi kebijakan biodiesel di berbagai negara. Tetapi, pelemahan permintaan dari India, Pakistan dan Bangladesh akibat tingginya harga bahan baku maupun potensi penurunan pembelian dari China tetap menjadi risiko yang patut diwaspadai.
Anak usaha PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) ini menilai, pertumbuhan produksi minyak sawit berpotensi menjaga refining margin tetap positif. Namun demikian, gangguan cuaca seperti El Niño dapat menekan produksi nasional, sedangkan penurunan ekspor akibat implementasi program biodiesel berpotensi membuka ruang kenaikan pungutan (levy).
Sejalan dengan prospek industri tersebut, CBUT berkomitmen memperkuat kapasitas operasional. Manajemen perseroan mengungkapkan bahwa saat ini Refinery and Fractionation Plant II sedang memasuki tahap commissioning dengan kapasitas 1.500 ton per hari dan ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2026.
Perusahaan bidang industri pemurnian, fraksinasi dan perdagangan produk kelapa sawit ini memiliki kapasitas produksi refinery mencapai 2.500 ton per hari dengan kemampuan menghasilkan 807.500 ton RBDPO dan 38.250 ton PFAD per tahun. Pada segmen fractionation, kapasitas produksi mencapai 2.500 ton per hari dengan output 646.000 ton olein dan sebanyak 161.500 ton stearin per tahun.
CBUT juga mengoperasikan Kernel Crushing Plant berkapasitas 600 ton per hari dengan kapasitas produksi tahunan 83.520 ton CPKO dan 101.760 ton PKE. Sementara itu, Moulding & Filling Plant yang mulai beroperasi pada September 2025 memiliki kapasitas 200 ton per hari untuk memproduksi 22.667 ton minyak goreng merek Hanau dan 45.333 ton Minyakita per tahun.
Secara operasional, per 31 Maret 2026, perseroan mencatat total produksi RBDPO sebanyak 57.928 metrik ton (MT), palm olein 467.921 MT, palm stearin 101.320 MT, PFAD 21.898 MT dan minyak goreng kemasan 9.166 MT. Adapun volume penjualan masing-masing tercatat 9.999 MT untuk RBDPO, 476.457 MT palm olein, 110.983 MT palm stearin, 17.699 MT PFAD dan 8.870 MT minyak goreng kemasan.
Per 31 Maret 2026 total aset CBUT mencapai Rp4,04 triliun, dengan liabilitas sebesar Rp2,87 triliun dan ekuitas Rp1,16 triliun. Perseroan membukukan penjualan Rp3,38 triliun di Kuartal I-2026 atau meningkat 0,53 persen (year-on-year), sedangkan laba tahun berjalan meningkat 11,57 persen (y-o-y) menjadi Rp45 miliar. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
