
RollingStock.ID – Grab Holdings Inc resmi merampungkan akuisisi perusahaan layanan keuangan digital asal Amerika Serikat, Stash Financial senilai USD425 juta. Langkah ini memperkuat strategi Grab dalam memperbesar bisnis teknologi keuangan (fintech), memperluas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta menambah sumber pendapatan berulang (recurring revenue) dengan margin tinggi.
Berdasarkan laporan Businesstimes.com.sg, Grab mengumumkan bahwa pembayaran untuk kepemilikan awal sebesar 50,1 persen sudah diselesaikan pada Rabu, 1 Juli 2026. Sementara itu, pembelian 49,9 persen akan dilakukan secara bertahap dalam tiga tahun ke depan berdasarkan nilai pasar wajar.
Transaksi yang pertama kali diumumkan pada Februari tersebut dilakukan melalui kombinasi pembayaran tunai dan saham, sedangkan pembayaran berikutnya dapat dilakukan dalam bentuk tunai, saham atau kombinasi keduanya.
Menurut Chief Executive Officer Grab, Anthony Tan, akuisisi tersebut tidak hanya memperkuat sumber pendapatan Grab, tetapi juga bisa meningkatkan kapabilitas teknologi finansial melalui aplikasi investasi berbasis AI milik Stash.
Stash akan tetap beroperasi sebagai entitas independen di bawah Grab dengan mempertahankan merek, model bisnis berbasis langganan dan tim manajemen yang dipimpin para pendirinya, Brandon Krieg dan Ed Robinson. Sebagai penasihat investasi yang terdaftar di AS, Stash mengelola aset lebih dari USD5 miliar dan melayani lebih dari 1 juta pengguna melalui layanan investasi, perbankan dan edukasi keuangan.
Salah satu produk unggulan Stash adalah AI Money Coach, asisten keuangan berbasis AI yang memberikan rekomendasi keuangan sesuai tujuan dan kondisi finansial pengguna. Manajemen Grab menyampaikan, separuh dari pengguna mengambil keputusan keuangan positif pada hari yang sama usai menggunakan layanan tersebut, sedangkan tingkat penggunaannya meningkat 40 persen di 2025.
Ke depan, Grab berencana mendukung ekspansi Stash di pasar AS dan sekaligus menjajaki peluang menghadirkan solusi investasi, termasuk AI Money Coach ke Asia Tenggara dalam jangka panjang. Perusahaan juga memperkirakan bahwa Stash mampu membukukan adjusted EBITDA lebih dari USD60 juta pada tahun kalender 2028 seiring dengan pertumbuhan bisnisnya.
Pada saat yang sama, Grab juga memperkuat fondasi bisnis layanan keuangan di Indonesia. Pada Mei 2026, perusahaan mengumumkan rencana mengonsolidasikan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) setelah pengalihan kepemilikan saham Singtel Alpha Investments di Superbank kepada GXS Bank, bank digital yang merupakan anak usaha Grab sekaligus perusahaan patungan dengan Singtel.
Langkah tersebut akan menjadikan Superbank lebih terintegrasi dengan ekosistem layanan keuangan Grab, sehingga diharapkan memperkuat kontribusi bisnis digital banking di pasar Indonesia. Analis CGS International Securities Group, Jacquelyn Yow menilai, prospek segmen layanan keuangan Grab semakin positif dan berpotensi mendekati titik impas (break-even) pada paruh kedua 2026, karena ditopang dua langkah strategis, yakni konsolidasi SUPA dan akuisisi Stash (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
