
RollingStock.ID – Valuasi sejumlah saham sektor barang konsumsi primer (staples) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap menunjukkan ruang pertumbuhan, tercermin dari kombinasi proyeksi kenaikan laba hingga 2027, valuasi price to earnings ratio (PER) yang relatif rendah, serta target harga yang berada di atas harga pasar saat ini.
Berdasarkan ringkasan valuasi emiten barang konsumsi primer di Indonesia, dikutip dari Bloomberg, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjadi emiten dengan selisih terbesar antara harga pasar dan target harga. Pada harga Rp6.625 per saham, target harga tercatat Rp12.600 per saham.
ICBP diproyeksikan membukukan pertumbuhan laba sebesar 10 persen pada 2026 dan sebesar 8,7 persen pada 2027. Dari sisi valuasi, saham ini diperdagangkan pada PER 7 kali untuk proyeksi laba 2026 dan menurun menjadi 6,5 kali pada 2027. Adapun return on equity (ROE) diperkirakan 22 persen, dengan estimasi earnings yield mencapai 14,3 persen pada 2026.
Sementara itu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga diperdagangkan pada valuasi yang relatif rendah. Pada harga Rp6.575 per saham, target harganya berada di level Rp9.300 per saham. Emiten di bawah kendali First Pacific Investment Management Ltd ini diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba sebesar 10,2 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 10,8 persen pada 2027.
INDF memiliki PER yang rendah, yakni sebesar 4,6 kali pada 2026 dan sebesar 4,2 kali pada 2027. Selain itu, estimasi earnings yield mencapai 21,7 persen terbilang tinggi di antara emiten barang konsumsi primer.
PT Mayora Indah Tbk (MYOR) diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba paling tinggi pada 2026, yakni sebesar 17,2 persen, kemudian bertambah 13,6 persen pada 2027. Saham MYOR diperdagangkan pada PER 11,5 kali untuk 2026 dan sebesar 10,1 kali untuk 2027, dengan ROE diperkirakan meningkat dari 16 persen menjadi 16,4 persen.

Adapun PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) diperkirakan mengalami penurunan laba sebesar 7,2 persen pada 2026 sebelum kembali bertumbuh 7,3 persen pada 2027. Valuasi sahamnya berada pada PER 9,8 kali untuk Tahun Buku 2026 dan sebesar 9,1 kali pada 2027.
Pada sisi lain, PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba sebesar 8,6 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 17,1 persen pada 2027. Namun, saham CMRY diperdagangkan pada valuasi yang lebih tinggi dibandingkan sebagian besar emiten lain di sektor ini, dengan PER 17,1 kali untuk 2026 dan sebesar 14,6 kali pada 2027.
Sementara itu, untuk PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) diproyeksikan membukukan pertumbuhan laba sebesar 6,1 persen pada Tahun Buku 2026 dan sebesar 4,9 persen pada 2027. Sahamnya diperdagangkan pada PER 8,6 kali untuk 2026 dan sebesar 8,2 kali pada 2027.
Laba PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diestimasikan bertumbuh 13,7 persen pada 2026 dan sebesar 7 persen pada 2027. Saham UNVR diperdagangkan pada P/E 16,5 kali pada 2026 dan sebesar 15,4 kali pada 2027 dan ROE diproyeksikan 150,5 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 253,7 persen pada 2027.
Secara keseluruhan, data Bloomberg tersebut menunjukkan bahwa sejumlah saham sektor barang konsumsi primer memiliki karakteristik beragam. Beberapa emiten diperdagangkan pada valuasi yang relatif rendah dengan proyeksi pertumbuhan laba yang stabil.
Namun ada emiten lainnya yang menawarkan prospek pertumbuhan lebih tinggi dengan valuasi lebih premium. Kondisi ini mencerminkan bahwa investor perlu mempertimbangkan valuasi, prospek pertumbuhan laba, efisiensi penggunaan modal dan potensi earnings yield secara menyeluruh. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
