BAJA Akan Alihkan 98,96% Dana Rights Issue untuk Bayar Utang, Potensi Dilusi 33,33%

Ilustrasi – (Foto: RollingStock)

RollingStock.ID – PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) akan mengalihkan hampir seluruh dana yang dihimpun melalui Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) alias rights issue untuk melunasi utang.

Berdasarkan surat tanggapan BAJA kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) atas permintaan penjelasan mengenai rights issue, perseroan menyatakan bahwa dari target penghimpunan dana sebesar Rp450 miliar, sebesar Rp445,32 miliar atau 98,96 persen akan digunakan untuk membayar utang kepada PT Sarana Steel.

Tanggapan BAJA tersebut dipublikasikan BEI pada 17 Juli 2026. Adapun sisa dana hasil rights issue yang hanya Rp4,68 miliar atau sebesar 1,04 persen akan dialokasikan sebagai modal kerja perseroan. Setelah dikurangi biaya-biaya emisi, dana yang benar-benar tersedia untuk modal kerja diperkirakan senilai Rp2,58 miliar.

Mengutip prospektus ringkas terkait rencana PM-HMETD I, BAJA menawarkan 900 juta saham baru atau setara 33,33 persen dari jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah rights issue, dengan harga pelaksanaan Rp500 per saham. Dengan demikian, nilai emisi yang ditargetkan mencapai Rp450 miliar.

Manajemen BAJA menyampaikan, setiap pemegang dua saham lama yang tercatat di Daftar Pemegang Saham (DPS) perseroan pada 27 Agustus 2026 berhak memperoleh satu HMETD. Setiap satu HMETD dapat digunakan untuk membeli satu saham baru. Pemegang saham yang tidak menebus HMETD berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga maksimum 33,33 persen.

Lebih lanjut manajemen BAJA menjelaskan, dana hasil rights issue diprioritaskan untuk memperbaiki struktur permodalan melalui penyelesaian utang kepada Sarana Steel. Langkah ini dinilai akan menghilangkan beban bunga, mengurangi eksposur terhadap risiko fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat, memperkuat neraca keuangan dan meningkatkan kapasitas BAJA untuk meraih utang dari bank.

Manajemen mengungkapkan, utang BAJA kepada Sarana Steel berasal dari pinjaman pokok sebesar USD20,6 juta beserta bunga yang telah terakumulasi. Mengacu pada Perjanjian Penyelesaian Utang tertanggal 19 Februari 2026, total kewajiban BAJA kepada Sarana Steel mencapai Rp445,34 miliar. Total utang ini terdiri dari utang pokok Rp317,57 miliar dan bunga sebesar Rp127,77 miliar.

Dalam pelaksanaan PM-HMETD I, penyetoran saham oleh Sarana Steel dilakukan melalui mekanisme kompensasi piutang terhadap BAJA, sedangkan bunga akan dibayarkan menggunakan dana hasil rights issue. Prospektus juga mengungkapkan, lima pemegang saham pengendali, yakni Soediarto Soerjoprahono, Handaja Susanto, Entario Widjaja Susanto, Laksmono Tirta Kusumo dan Anton Sebastian telah menyatakan tidak akan melaksanakan HMETD yang menjadi haknya. Hanya Ibnu Susanto yang menyatakan akan mengeksekusi seluruh HMETD miliknya sebanyak 156.058.150 saham baru atau senilai Rp78,03 miliar.

Apabila setelah pelaksanaan HMETD masih ada sisa saham yang tidak diambil pemegang saham maupun pemesan tambahan, Sarana Steel bersama Ibnu Susanto akan bertindak sebagai pembeli siaga. Sarana Steel berkewajiban membeli maksimal 620 juta saham atau sebesar 83,34 persen dari total sisa saham yang dijamin dengan nilai maksimal Rp310 miliar.

Sementara itu, Ibnu Susanto akan membeli maksimal 123,94 juta saham atau sebesar 16,66 persen senilai Rp61,97 miliar. Dengan demikian, total komitmen pembeli siaga mencapai Rp371,97 miliar.

Jika Sarana Steel melaksanakan seluruh kewajiban sebagai pembeli siaga, penyetoran sebesar maksimal Rp310 miliar tidak dilakukan secara tunai, melainkan melalui kompensasi piutang berdasarkan perjanjian kredit yang telah berjalan sejak 2011. Adapun Ibnu Susanto akan melakukan penyetoran secara tunai dan dia sudah menyatakan memiliki kecukupan dana hingga Rp140 miliar.

Dalam penjelasan kepada BEI, manajem BAJA juga mengakui bahwa harga pelaksanaan HMETD sebesar Rp500 per saham berada sekitar tiga hingga empat kali di atas kisaran harga saham BAJA selama 12 bulan terakhir yang berada pada rentang Rp116-Rp197 per saham. Perseroan beralasan harga tersebut mencerminkan nilai wajar, setelah restrukturisasi neraca dan penyelesaian utang afiliasi.

Selain itu, manajemen mengaku sempat tidak memenuhi rasio debt service coverage ratio (DSCR) sebagaimana dipersyaratkan dalam perjanjian kredit. Namun perseroan telah memperoleh waiver tertulis dari PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) pada 17 Juli 2026 atas pelanggaran covenant tersebut. Manajemen BAJA pun menjelaskan bahwa rasio debt to equity ratio (DER) sebesar 60,67 kali dalam laporan keuangan berbeda dengan adjusted DER yang digunakan dalam perjanjian kredit.

Berdasarkan metode perhitungan kreditur, adjusted DER BAJA tercatat 0,87 kali dan masih memenuhi batas maksimal tiga kali, sedangkan adjusted current ratio mencapai 1,73 kali atau berada di atas batas minimum 1,1 kali. Pada sisi lain, simulasi yang disampaikan BAJA menunjukkan bahwa pelaksanaan rights issue berpotensi mengubah struktur kepemilikan saham.

Dalam skenario seluruh pemegang saham publik tidak melaksanakan HMETD dan Sarana Steel membeli seluruh porsi yang dijaminnya, maka Sarana Steel bakal menguasai 22,96 persen saham BAJA. Sementara itu, kepemilikan pemegang saham publik terdilusi dari 21,32 persen menjadi 14,22 persen. Perseroan menegaskan, kepemilikan tersebut tidak akan menjadikan Sarana Steel sebagai pengendali baru maupun mengubah pengendalian bersama yang saat ini dilakukan para pemegang saham pengendali.

Lebih lanjut manajemen BAJA juga menyampaikan simulasi bahwa free float saham BAJA bisa menurun dari 20,93 persen menjadi 13,95 persen, apabila mayoritas pemegang saham pengendali tidak melaksanakan HMETD dan sisa saham diserap pembeli siaga.

Perseroan berharap rencana rights issue bisa mendapatkan restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 13 Agustus 2026. Perdagangan saham dengan HMETD (cum-right) di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan berakhir pada 24 Agustus 2026, sedangkan tanggal pencatatan pemegang saham (recording date) untuk memperoleh HMETD pada 27 Agustus 2026.

Adapun waktu perdagangan dan pelaksanaan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 31 Agustus hingga 4 September 2026 dan penjatahan diagendakan pada 9 September 2026, sedangkan pengembalian uang pemesanan kepada investor akan dilakukan pada 11 September 2026. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top