Pertumbuhan Laba Bersih Bank Jago (ARTO) Dibayangi Kenaikan NPL pada 1H26

arto
PT Bank Jago Tbk (ARTO) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Selama enam bulan pertama tahun ini, PT Bank Jago Tbk (ARTO) mampu membukukan pertumbuhan laba bersih, namun capaian ini dibayangi oleh memburuknya kualitas aset, tercermin dari kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL), peningkatan nominal kredit bermasalah dan lonjakan beban pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).

Berdasarkan laporan keuangan ARTO untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, emiten dibawah kendali bankir Jerry Ng ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp189,07 miliar atau bertumbuh 48,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 senilai Rp127,07 miliar.

Namun per 30 Juni 2026, rasio NPL bruto Bank Jago tercatat meningkat menjadi 0,77 persen dari 0,61 persen pada 31 Desember 2025, sedangkan NPL neto meningkat menjadi 0,25 persen dari 0,12 persen. Kenaikan kedua rasio tersebut menunjukkan kualitas aset ARTO mengalami tekanan dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu.

Sejalan dengan kenaikan rasio NPL, total kredit bermasalah berdasarkan ketentuan OJK meningkat menjadi Rp204,25 miliar per 30 Juni 2026, dibandingkan senilai Rp119,05 miliar pada 31 Desember 2025. Kredit berkategori macet mencapai Rp131,41 miliar, kredit diragukan sebesar Rp45,42 miliar dan kredit kurang lancar senilai Rp27,43 miliar.

Dari sisi sektor ekonomi, kredit bermasalah terbesar masih berasal dari segmen rumah tangga yang mencapai Rp123,97 miliar, lalu disusul sektor perdagangan, restoran dan hotel yang sebesar Rp29,33 miliar. Peningkatan risiko kredit ini mendorong Bank Jago untuk memperbesar pencadangan.

Pada Semester I-2026, beban penyisihan penurunan nilai (CKPN) mencapai Rp553,29 miliar atau lebih tinggi 35,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 senilai Rp408,59 miliar. Sementara itu, saldo cadangan kerugian penurunan nilai kredit meningkat menjadi Rp696,07 miliar dari Rp552,48 miliar pada akhir 2025.

Per 30 Juni 2026, ARTO mencatatkan kredit dan pembiayaan syariah bersih bertumbuh menjadi Rp25,93 triliun dari Rp23,79 triliun pada 31 Desember 2025. Pendapatan bunga dan syariah bersih pada Semester I-2026 juga meningkat menjadi Rp1,49 triliun dari Rp1,17 triliun pada Semester I 2025.

Rasio kecukupan modal (CAR) Bank Jago per akhir Semester I-2026 tercatat sebesar 28,38 persen atau lebih tinggi dibandingkan ketentuan minimum regulator sesuai profil risiko sebesar 10 persen, meski menurn dari 31,63 persen pada 31 Desember 2025. Rasio Common Equity Tier 1 (CET1) dan Tier 1 masing-masing berada di level 27,28 persen, sedangkan Tier 2 sebesar 1,1 persen. Pada sisi intermediasi, porsi kredit UMKM terhadap total kredit meningkat menjadi 16,92 persen dari 15,16 persen pada 31 Desember 2025.

Untuk sisi pendanaan, dana tabungan per 30 Juni 2026 meningkat menjadi Rp9,58 triliun dari Rp7,97 triliun, sedangkan deposito berjangka menurun menjadi Rp11,41 triliun dari Rp12,48 triliun pada 31 Desember 2025. Bank Jago juga mencatat peningkatan pinjaman yang diterima dan liabilitas repo sebagai bagian dari pengelolaan likuiditas selama semester pertama tahun ini. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top