PMI Manufaktur Indonesia Kembali ke Zona Ekspansi, Produksi Berangsur Pulih

Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Sektor manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026, setelah sempat mengalami kontraksi selama beberapa bulan. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global menunjukkan indeks meningkat menjadi 50,2 dari 46,9 pada Juni 2026.

Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dalam lima bulan terakhir atau sejak Februari 2026, sekaligus menandai aktivitas manufaktur kembali bertumbuh karena indeks berada di atas ambang batas 50. Perbaikan PMI terutama ditopang oleh pulihnya aktivitas produksi yang kembali mencatat pertumbuhan setelah empat bulan berturut-turut mengalami kontraksi, meski laju ekspansinya masih relatif terbatas.

Sejalan dengan kondisi tersebut, pesanan baru mulai stabil setelah mengalami penurunan tajam pada bulan sebelumnya. Namun di tengah membaiknya aktivitas domestik, permintaan dari pasar ekspor masih belum sepenuhnya pulih. Volume pesanan dari luar negeri kembali mencatat penurunan untuk bulan kelima secara berturut-turut, mencerminkan bahwa pemulihan permintaan global masih berlangsung secara bertahap.

Peningkatan aktivitas produksi turut mendorong akumulasi pekerjaan yang belum terselesaikan hingga mencapai level tertinggi sejak November 2025. Kondisi ini tentunya mendorong perusahaan untuk kembali melakukan penambahan tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir, meskipun perekrutan masih berlangsung dalam skala yang moderat.

Secara operasional, aktivitas pembelian bahan baku masih mengalami kontraksi, tetapi dengan intensitas yang jauh lebih ringan dibandingkan sebulan sebelumnya. Sementara itu, waktu pengiriman bahan baku kembali memanjang untuk bulan kesepuluh berturut-turut akibat kendala distribusi. Meski demikian, tingkat keterlambatan menjadi yang paling ringan selama periode tersebut seiring membaiknya ketersediaan pasokan material.

Pada sisi biaya, tekanan inflasi harga input melandai ke level terendah dalam empat bulan terakhir. Walaupun demikian, beban produksi masih relatif tinggi akibat kenaikan harga bahan baku, sehingga produsen kembali melakukan penyesuaian harga jual dengan kenaikan yang tetap signifikan.

Penulis: Milva Sary
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top