Semester I-2026, Akumulasi Rugi PP Properti (PPRO) Membengkak Jadi Rp7,86 Triliun

RollingStock.ID – Selama enam bulan pertama tahun ini, PT PP Properti Tbk (PPRO) menderita rugi bersih sebesar Rp201,72 miliar. Dengan demikian, per 30 Juni 2026 nilai akumulasi rugi (defisit) yang dicatatkan anak usaha PT PP (Persero) Tbk (PTPP) ini menjadi Rp7,86 triliun.
Mengutip laporan keuangan PPRO untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, entitas BUMN ini membukukan pendapatan usaha Rp171,19 miliar atau bertumbuh 20,35 persen dibandingkan dengan Semester I-2025 yang senilai Rp142,24 miliar.
Namun pada paruh pertama tahun ini, PPRO justru tercatat mengalami rugi sebelum pajak penghasilan mencapai Rp206,26 miliar atau berbanding terbalik dengan kondisi di paruh pertama 2025 yang bisa meraih laba sebelum pajak penghasilan senilai Rp40,29 miliar.
Rugi sebelum pajak tersebut terutama dipengaruhi pemburukan kinerja pada akun beban lain-lain yang mencapai Rp106,23 miliar alias berbanding terbalik dengan kondisi di Semester I-2025 yang mampu meraih penghasilan lain-lain Rp176,38 miliar.
Apabila mengacu pada CALK PPRO di Semester I-2026, beban lain-lain yang mencapai Rp106,23 triliun tersebut disebabkan oleh lonjakan beban administrasi bank yang mencapai 166,63 persen menjadi Rp110,89 miliar dari Rp41,59 miliar pada Semester I-2025.
Pada periode Januari-Juni 2026, PPRO mencatatkan rugi tahun berjalan mencapai Rp206,73 miliar atau memburuk dibandingkan periode Januari-Juni 2025 yang membukukan laba tahun berjalan senilai Rp39,7 miliar.
Adapun besaran rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk di Semester I-2026 mencapai Rp201,72 miliar alias berbanding terbalik dengan Semester I-2025 yang bisa mencatatkan laba bersih senilai Rp47,18 miliar.
Akibat adanya rugi bersih Rp201,72 miliar tersebut, maka per 30 Juni 2026 jumlah akumulasi rugi yang diderita PPRO membengkak menjadi Rp7,86 triliun dari posisi defisit per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp7,66 triliun.
Per 30 Juni 2026, jumlah ekuitas PPRO tercatat melorot 3,26 persen menjadi Rp5,94 triliun dari Rp6,14 triliun pada 31 Desember 2025. Hingga akhir Semester I-2026, total liabilitas membengkak 1,55 persen (y-t-d) menjadi Rp4,59 triliun, yang didominasi kewajiban jangka pendek Rp2,67 triliun.
Lantaran adanya penurunan ekuitas hingga 3,26 persen tersebut, maka total aset PPRO per 30 Juni 2026 menjadi Rp10,53 triliun atau merosot 1,31 persen dibandingkan dengan total aset per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp10,67 triliun. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary