
RollingStock.ID – Bank sentral Jepang kembali mengirimkan sinyal penting ke pasar global, terkait sikap Bank of Japan (BoJ) yang menyiratkan bahwa siklus kenaikan suku bunga belum berakhir. Pesan ini pun langsung memperkuat ekspektasi investor bahwa era kebijakan moneter super-longgar di Jepang benar-benar menuju babak akhir.
Pada rapat kebijakan moneter pada 18-19 Desember 2025, BoJ memutuskan untuk menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 0,75 peren dari sebelumnya 0,5 persen. Level ini merupakan yang tertinggi sejak 1995 dan menandai langkah lanjutan BoJ dalam menormalisasi kebijakan setelah puluhan tahun bergantung pada stimulus agresif.
Keputusan tersebut menjadi sorotan utama pelaku pasar global, termasuk investor di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ringkasan rapat yang dirilis pada Senin (29/12) menunjukkan adanya keyakinan di internal Dewan BoJ bahwa penyesuaian kebijakan masih perlu dilakukan, bahkan salah satu anggota dewan menilai tingkat pelonggaran moneter harus terus dievaluasi dengan mempertimbangkan jeda waktu beberapa bulan ke depan.
Upaya melakukan eveluasi secara periodic itu dikarenakan dampak kenaikan suku bunga dinilai relatif terbatas terhadap aktivitas ekonomi dan pergerakan harga. Pandangan lain dari anggota dewan menegaskan bahwa BoJ tidak ingin terjebak pada jalur pengetatan yang kaku.
Setiap keputusan kebijakan, menurut Dewan BoJ, harus tetap diambil secara fleksibel di setiap pertemuan, menyesuaikan dengan dinamika ekonomi dan inflasi terbaru. Sikap ini memberi sinyal bahwa pasar harus bersiap menghadapi kejutan kebijakan di masa depan.
Beberapa anggota dewan juga menyoroti pentingnya kenaikan suku bunga yang tepat waktu untuk meredam tekanan inflasi ke depan. Pelemahan yen yang terjadi belakangan ini dinilai mencerminkan suku bunga kebijakan yang masih terlalu rendah jika dibandingkan dengan laju inflasi, sehingga berpotensi memicu tekanan harga lebih lanjut.
Investor saham patut mencermai arah kebijakan BoJ, karena perubahan suku bunga di Jepang berpotensi mempengaruhi arus modal global, pergerakan nilai tukar regional dan minat investor asing terhadap aset berisiko di emerging markets, termasuk Indonesia.
Pada perdagangan terbaru, yen berada di level 156,31 per dolar AS atau menguat tipis dibandingkan posisi 156,57 pada penutupan Jumat di New York. Pergerakan ini menjadi cerminan awal bagaimana pasar mulai merespons sinyal tegas dari BoJ, sebuah dinamika global yang layak masuk radar strategi investor domestik. (Dow Jones Newswires/Satya Darmawan)
