
RollingStock.ID – Harga minyak dunia melonjak lebih dari USD1 per barel pada perdagangan Senin (29/12), seiring peningkatan ketegangan geopolitik di Eropa Timur dan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan global. Situasi ini mendorong sentimen positif di pasar energi dan mengangkat harga ke level psikologis bagi pelaku pasar.
Minyak mentah Brent sebagai acuan internasional ditutup menguat USD1,30 atau 2,1 persen ke level USD61,94 per barel. Mengacu pada laporan Reuters dari New York, Senin (29/12) atau Selasa (30/12) pagi WIB. Saat yang sama, minyak mentah WTI patokan AS melonjak USD1,34 atau 2,4 persen menjadi USD58,08 per barel.
Lonjakan harga terjadi setelah Rusia menuding Ukraina melancarkan serangan drone terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin di wilayah utara Rusia. Moskow menyatakan akan meninjau kembali posisinya dalam perundingan damai menyusul insiden tersebut.
Perusahaan penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates menilai bahwa ruang penguatan harga tetap terbuka dalam waktu dekat. Menurut perusahaan ini, pasar energi cenderung menguat hingga akhir pekan ini dan pekan depan, kecuali Rusia secara mengejutkan menarik tuntutan sebelumnya terkait wilayah dan jaminan keamanan.
Sebelum tuduhan serangan drone mencuat, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy menyampaikan adanya kemajuan signifikan dalam pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Keduanya sepakat bahwa tim dari kedua negara akan bertemu pekan depan untuk memfinalisasi sejumlah isu yang bertujuan mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Dari Timur Tengah, peningkatan ketidakstabilan di Yaman juga memperkuat kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak. Konsultan energi Gelber & Associates menyatakan, eskalasi konflik —termasuk serangan udara Arab Saudi di Yaman— terus menjaga risiko gangguan pasokan tetap tinggi.
Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan, pihaknya akan merespons setiap langkah militer kelompok separatis selatan di provinsi Hadramout yang dinilai menghambat upaya deeskalasi dan mengancam keselamatan warga sipil.
Ketegangan meningkat setelah bentrokan pada Kamis menewaskan dua anggota Hadhrami Elite Forces yang berafiliasi dengan Southern Transitional Council. Serangan udara Arab Saudi dilaporkan menyusul pada Jumat pagi dengan sasaran pasukan STC di wilayah tersebut.
Pada sisi fundamental, pasar minyak juga memperoleh dukungan dari kuatnya impor minyak mentah China melalui jalur laut. Analis UBS Giovanni Staunovo menyatakan, faktor ini membantu memperketat pasar minyak global. Dia menambahkan bahwa level USD60 per barel menjadi batas bawah yang relatif kuat bagi Brent, dengan harga diperkirakan pulih secara moderat pada 2026 yang seiring dengan potensi perlambatan pertumbuhan pasokan non-OPEC+.
Pelaku pasar juga mencermati data persediaan minyak AS untuk pekan yang berakhir pada 19 Desember. Laporan yang semula dijadwalkan rilis pada Senin pukul 10.30 waktu setempat tertunda tanpa kepastian jadwal baru. Berdasarkan jajak pendapat Reuters, persediaan minyak mentah AS bakal menurun pada periode tersebut, sementara stok distilat dan bensin diproyeksikan meningkat. (Reuters/Satya Darmawan)
