Kinerja Solid di 2025 Jadi Modal BEI Menuju Target RNTH 2026 Sebesar Rp15 Triliun

sro ojk

RollingStock.ID – Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) di 2026 mencapai Rp15 triliun pada 2026, lantaran kinerja perdagangan saham di sepanjang 2025 berhasil mencatatkan peningkatan aktivitas transaksi, pertumbuhan jumlah investor dan likuiditas pasar yang relatif terjaga.

Menurut Direktur Utama BEI, Iman Racman, selain menetapkan RNTH sebesar Rp15 triliun, Bursa juga menetapkan sasaran penambahan 2 juta investor baru dan pencatatan total 555 Efek baru di 2026. Pencatatan ini mencakup saham, obligasi dan sukuk, Kontrak Investasi Kolektif (KIK) DIRE dan KIK-DIRE Syariah, DINFRA, ETF, KIK-EBA/KIK-EBA Syariah, serta EBA-SP maupunEBA-SP Syariah.

Iman menyampaikan, sepanjang 2025 BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal lainnya, yakni PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek (KSEI) dan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berhasil menjalankan berbagai inisiatif pengembangan pasar.

“Tahun 2025 menjadi tahun pembuktian ketahanan dan kesiapan pasar modal Indonesia. Meskipun di tengah tekanan domestik dan global yang tinggi, pasar mampu menjaga stabilitas, bangkit kembali dan menorehkan capaian kinerja yang solid,” ujar Iman.

Dari sisi investor, jumlah investor pasar modal yang mencakup investor saham, obligasi dan reksa dana melonjak 36,67 persen (year-on-year) menjadi 20,3 juta investor. Investor saham dan surat berharga lainnya bertambah lebih dari 2,2 juta menjadi 8,59 juta investor.

Hingga 29 Desember 2025, rata-rata investor aktif bertransaksi mencapai 901 ribu investor per bulan. Pada sisi transaksi, investor ritel mencatatkan porsi 49,9 persen, sementara itu investor institusi asing berkontribusi 36,3 persen terhadap total rata-rata nilai transaksi harian hingga November 2025.

Untuk sisi penawaran Efek, BEI mencatat ada 26 pencatatan saham baru di sepanjang 2025, dengan total dana penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp18,1 triliun, termasuk enam lighthouse IPO. Dengan pencatatan tersebut, jumlah Perusahaan Tercatat untuk instrumen saham mencapai 956 emiten. Selain itu, BEI juga membukukan 181 emisi obligasi dan sukuk, tiga Exchange-Traded Fund (ETF), satu Efek Beragun Aset (EBA) dan 647 waran terstruktur.

Lebih lanjut Iman menyampaikan, meskipun jumlah IPO menurun dibandingkan setahun sebelumnya, nilai penghimpunan dana dari saham justru meningkat 26,6 persen. Berdasarkan Ernst & Young Global IPO Trends Q3 2025, BEI berada di peringkat ke-11 dunia dari sisi jumlah pencatatan saham baru.

Adapun kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 22,1 persen (year-to-date) ke level 8.644 pada 29 Desember 2025 dan pada 30 Desember 2025 ditutup pada posisi 8.646.

RNTH tercatat sebesar Rp18,06 triliun, dengan volume transaksi harian mencapai 30,27 miliar saham dan frekuensi transaksi harian 1,78 juta kali transaksi. Sepanjang 2025, aktivitas perdagangan saham mencatat 24 kali rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) dan nilai kapitalisasi pasar (market cap) tertinggi yang mencapai Rp16 ribu triliun.

Di luar pasar saham, perdagangan surat utang melalui Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) hingga 29 Desember 2025 mencatat rata-rata volume transaksi harian sebesar Rp6,52 triliun. Perdagangan produk non-saham membukukan nilai transaksi Rp7,65 triliun. Sementara itu, perdagangan unit karbon mencatat transaksi 2,89 juta ton CO₂ ekuivalen dari sembilan proyek dengan nilai transaksi mencapai Rp30,12 miliar.

Guna menjaga momentum menuju 2026, BEI bersama SRO lainnya dan OJK melanjutkan pengembangan produk, layanan dan infrastruktur pasar di sepanjang 2025. Inisiatif tersebut mencakup perdagangan internasional unit karbon Indonesia melalui IDXCarbon, peluncuran kontrak berjangka indeks asing, pengembangan SPPA Repo dan penyesuaian sejumlah mekanisme perdagangan. (Milva Sary)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top