BEI Mulai Korek dan Soroti Rencana MEJA Soal Akuisisi Perusahaan Batubara Rp1,6 Triliun

meja

RollingStock – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk mengorek dan menggali secara mendalam terkait rencana PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) yang akan mengakuisisi 45 persen saham perusahaan pertambangan batubara PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) senilai Rp1,6 triliun.

Merespons keingintahuan BEI, Direktur Utama MEJA, Richie Adrian Hartanto S melalui surat resminya kepada Bursa tertanggal 5 Januari 2026 menyampaikan bahwa rencana tersebut sejalan dengan agenda diversifikasi MEJA sebagai emiten dekorasi interior dan konstruksi ke sektor pertambangan batubara.

Pendalaman yang dilakukan BEI melalui permintaan penjelasan tertulis, ditanggapi manajemen MEJA dengan menjelaskan bahwa rencana akuisisi TCP merupakan transaksi material. Maka, perseroan akan memenuhi seluruh kewajiban keterbukaan informasi, termasuk memperoleh persetujuan pemegang saham melalui RUPS-LB.

Dalam pertanyaannya kepada MEJA, BEI secara khusus menyoroti nilai transaksi Rp1,6 triliun yang dinilai sangat signifikan jika dibandingkan dengan kondisi keuangan MEJA. Per 30 Juni 2025, total aset emiten ini hanya Rp107,08 miliar, dengan kas dan setara kas Rp31,56 miliar.

Menanggapi hal tersebut, manajemen MEJA dalam surat perseroan yang ditandatangani Richie tersebut menegaskan bahwa akuisisi tidak akan dilakukan dengan penggunaan kas internal. “Pembayaran Rp1,6T tersebut adalah dengan share swap melalui mekanisme right issue beberapa tahap”.

Hingga kini pihak calon pembeli maupun penjual belum menentukan jumlah saham MEJA yang akan diterbitkan maupun jadwal pelaksanaannnya. Richie menyampaikan, nilai transaksi Rp1,6 triliun merupakan kesepakatan awal antar ultimate beneficial ownership (UBO), yang merujuk pada transaksi penjualan 55 persen saham TCP kepada pihak lain senilai USD100 juta.

Manajemen MEJA juga menegaskan bahwa penentuan nilai akuisisi dilakukan berdasarkan kajian internal dengan mempertimbangkan prospek usaha, aset, kinerja operasional dan potensi sinergi, tanpa menggunakan jasa penilai independen.

Selain itu, BEI juga menggali aspek tata kelola dan risiko, termasuk status perizinan, potensi konflik lahan, isu lingkungan hingga risiko pencabutan atau penyesuaian konsesi pertambangan TCP. Menanggapi hal ini, manajemen MEJA menyatakan bahwa seluruh informasi detail terkait perizinan, risiko hukum, lingkungan dan hasil verifikasi cadangan, serta sumber daya akan disampaikan setelah proses due diligence selesai.

Manajemen mengaku, saat ini MEJA sedang melakukan comprehensive due diligence yang mencakup aspek hukum, keuangan, operasional, bisnis dan komersial, dengan melibatkan profesional eksternal di bidang hukum, keuangan dan operasional. Selain itu, menajemen juga mengungkap bahwa TCP tidak memiliki hubungan afiliasi dengan MEJA maupun pengendali perseroan.

Adapun struktur pemegang saham TCP terdiri dari Subagio Wirjoatmodjo sebesar 98,33 persen dan Sukarharjo Wirjoatmodjo sebesar 1,67 persen, dengan penerima manfaat utama adalah Subagio Wirjoatmodjo. TCP berdomisili di Gedung Plaza Permata Lantai 10, Jakarta dan bergerak di bidang pertambangan batubara.

Terkait dampak transaksi, manajemen MEJA menyampaikan, pada tahap saat ini rencana akuisisi belum menimbulkan kewajiban finansial maupun dampak langsung terhadap posisi keuangan perseroan, karena realisasi transaksi masih sangat bergantung pada hasil due diligence, persetujuan regulator dan kesiapan struktur pendanaan dan permodalan.

Namun demikian, lanjut manajemen MEJA, jika seluruh persyaratan pendahuluan terpenuhi dan transaksi direalisasikan, akuisisi tersebut berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap struktur permodalan, kepemilikan saham, tingkat dilusi pemegang saham dan profil risiko perseroan.

Lebih lanjut manajemen MEJA menegaskan, masuknya PT Triple Berkah Bersama sebagai pengendali baru perseroan menjadi bagian dari strategi memperluas portofolio usaha dan menciptakan sumber pendapatan baru yang lebih stabil dalam jangka panjang.

Hingga saat ini, dokumen terkait penawaran tender wajib (MTO) atas perubahan pengendalian masih dalam proses penelaahan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seperti diberitakan RollingStock sebelumnya, per 30 Juni 2025, ekuitas MEJA senilai Rp84,73 miliar atau naik 1,2 persen dibandingkan per 31 Desember 2024 sebesar Rp83,74 miliar. Adapun saldo laba hingga akhir Semester I-2025 tercatat Rp11,33 miliar atau lebih tinggi 14 persen (year-to-date).

Sampai akhir September 2025, total liabilitas MEJA terpantau bisa ditekan 17,1 persen (y-t-d) menjadi Rp22,35 miliar, namun masih didominasi kewajiban jangka pendek yang mencapai Rp20,6 miliar. Sekadar informasi, sampai saat ini MEJA belum mempublikasikan kinerja keuangan periode 30 September 2025.

Total aset perseroan per 30 Juni 2025 tercatat Rp107,08 miliar atau menurun 3,3 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas Rp31,56 miliar atau meningkat 4,8 persen dibandingkan per 31 Desember 2024 senilai Rp30,12 miliar. Peningkatan kas ini ditopang arus kas bersih dari aktivitas operasi 1H25 sebesar Rp12,79 miliar. (*)

Penulis: Satya Darmawan

Editor: Satya Darmawan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top