Bursa Asia Melonjak di Awal 2026, Saham AI Kembali Jadi Magnet Investor

kospi

RollingStock.ID – Pasar saham emerging markets Asia membuka perdagangan awal 2026 dengan sentimen sangat positif. Bursa Taiwan, Korea Selatan dan Singapura mencetak rekor tertinggi baru pada Jumat (2/1), seiring investor global terus mengalirkan dana ke sejumlah saham berbasis kecerdasan buatan (AI).

Mengacu laporan Reuters, menjelang pukul 15.00 WIB indeks MSCI saham emerging markets Asia melonjak 2% ke level tertinggi sejak akhir Oktober 2025. Lonjakan ini terutama ditopang pasar Korea Selatan dan Taiwan yang berkontribusi 40 persen dari bobot indeks.

Secara global, indeks saham emerging markets yang lebih luas juga menguat 1,6 persen dan menyentuh level tertinggi sejak akhir Februari 2021, mencerminkan meningkatnya selera risiko investor. Reli saham berbasis AI yang mendominasi sepanjang 2025 kembali menjadi penggerak utama pasar Asia.

Meski kekhawatiran atas valuasi tinggi masih membayangi, beberapa saham teknologi dan semikonduktor tetap menarik minat berkat kuatnya permintaan global. Bursa Taiwan dan Korea Selatan muncul sebagai penerima manfaat terbesar dari tren tersebut.

Indeks KOSPI Korea Selatan, yang mencatatkan kinerja terbaik di Asia pada 2025 dengan kenaikan sekitar 75 persen, kembali melesat 2,3 persen dan menembus rekor baru di level 4.313,55. Penguatan ini didorong lonjakan saham raksasa teknologi, yakni Samsung Electronics yang melambung 5 persen dan SK Hynix yang melesat 3,5 persen.

Di Taiwan, indeks acuan TAIEX menyentuh puncak baru di 29.363,43 setelah untuk pertama kalinya menembus level 29.000 pada akhir Desember 2025, sekaligus menutup tahun lalu dengan kenaikan hingga 27 peren berkat reli saham teknologi dan AI.

Menurut Direktur Riset AC Capital Market, Glenn Yin, saham Korea Selatan dan Taiwan masih ditopang permintaan ekspor berbasis AI yang kuat, serta laba semikonduktor yang solid. Namun, dia mengingatkan, ruang kenaikan lanjutan berpotensi lebih terbatas.

Yin mengungkapkan, valuasi sudah meningkat signifikan setelah reli tajam sepanjang 2025, sehingga pengulangan kinerja serupa pada 2026 menjadi kurang memungkinkan. Meski demikian, permintaan struktural terhadap chip canggih dinilai tetap kuat, sehingga peluang investasi tetap terbuka secara lebih selektif.

Untuk kawasan Asia Tenggara, indeks FTSE Straits Times Singapura melejit 0,5 persen dan mencetak rekor di level 4.669,29. Sepanjang 2025, indeks STI melonjak lebih dari 22 persen, dengan dukungan penguatan saham perbankan besar, telekomunikasi, industri dan properti.

Indeks PSEI Filipina pun turut menguat 1 persen ke level tertinggi sejak 21 Oktober 2025, sementara itu pasar saham Malaysia terkoreksi ke level terendah enam sesi. Di dalam negeri, IHSG bergerak menguat 1,17 persen ke 8.748, sejalan dengan sentimen positif regional.

Pada pasar mata uang, sebagian besar mata uang emerging markets Asia membuka awal tahun dengan kecenderungan melemah. Rupiah terdepresiasi 0,3 persen terhadap dolar AS, sedangkan won Korea melemah 0,4 persn. Kendati demikian, won menutup 2025 dengan kinerja kuat setelah melonjak lebih dari 3 persen pada pekan terakhir Desember 2025.

Gubernur Bank of Korea menilai, pelemahan won ke kisaran atas 1.400 per dolar AS belakangan ini berada di atas level fundamental, sebagian dipicu oleh peningkatan investasi domestik Korea ke pasar saham luar negeri.

Secara fundamental ekonomi, Singapura mencatatkan pertumbuhan ekonomi 5,7 peren pada Kuartal IV-2025, sehingga pertumbuhan sepanjang tahun mencapai 4,8 persen atau tertinggi sejak 2021. Kinerja ini ditopang sektor manufaktur yang solid dan lonjakan permintaan global terhadap produk-produk terkait AI.

Analis Maybank menyebutkan, momentum pertumbuhan tersebut berpotensi untuk berlanjut hingga paruh pertama 2026, meski dibayangi risiko tarif dan geopolitik global. Boom AI diperkirakan terus mendukung ekspor elektronik, investasi dan aktivitas jasa teknologi Singapura.

Sepanjang 2025, sebagian besar mata uang Asia mencatat kinerja solid seiring fundamental ekonomi yang menguat dan pelemahan dolar AS. Ringgit Malaysia menguat lebih dari 10 persen, sedangkan baht Thailand meningkat 8,4 persen.

Indeks dolar AS terdepresiasi hingga 9 persen di sepanjang 2025 atau mencatatkan penurunan tahunan terdalam sejak 2017, akibat tertekan kebijakan pemangkasan suku bunga dan ketidakpastian arah kebijakan perdagangan AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. (Satya Darmawan)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top