
RollingStock.ID – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berencana menerbitkan dan menawarkan surat utang sebesar Rp2,25 triliun dengan tingkat bunga berkisar 6,5 persen hingga 7,5 persen per tahun, yang perolehan dananya akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja.
Berdasarkan Prospektus Ringkas TPIA yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (4/2), perusahaan milik taipan Prajogo Pangestu ini akan menawarkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap II-2026 dengan nilai emisi mencapai Rp2,25 triliun.
Sekadar mengingatkan, TPIA menargetkan total penghimpunan dana dari program PUB atas Obligasi Berkelanjutan V mencapai Rp5 triliun. Sebelumnya, anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini sudah mendistribusikan Obligasi Berkelanjutan V Tahap I-2025 senilai Rp1,5 triliun.
Pada rencana penawaran Obligasi Berkelanjutan V Tahap II-2026, surat utang ini terbagi menjadi tiga seri, yakni Seri A senilai Rp635,39 miliar bertenor tiga tahun dengan tingkat bunga sebesar 6,5 persen per tahun. Seri B sebesar Rp885,39 miliar bertenor lima tahun dengan tingkat bunga 7 persen per tahun.
Sementara itu, Seri C sebesar Rp729,22 miliar bertenor tujuh tahun dengan tingkat bunga 7,5 persen per tahun. Patut diingat, surat utang TPIA ini memiliki peringkat idAA- (Double A Minus) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).
Pada aksi korporasi tersebut, induk usaha PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) ini menunjuk tujuh penjamin pelaksana emisi obligasi, yakni PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, PT Henan Putihrai Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM).
Adapun masa penawaran umum obligasi akan berlangsung pada 18-20 Februari 2026, penjatahan pada 23 Februari 2026 , pendistribusian obligasi secara elektronik (Tanggal Emisi) pada 25 Februari 2026 dan pencatatan obligasi di BEI diagendakan pada 26 Februari 2026.
Rencananya, perolehan dana dari penawaran obligasi —setelah dikurangi biaya-biaya emisi— akan digunakan seluruhnya untuk keperluan modal kerja, termasuk di antaranya pembelian bahan baku produksi. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
