
RollingStock.ID – Harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia kembali melemah pada perdagangan Kamis, mencatatkan penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut di tengah kombinasi tekanan global dan regional, seperti anjloknya harga minyak nabati pesaing, penurunan harga minyak mentah dan keputusan Indonesia yang membatalkan rencana penerapan biodiesel B50 tahun ini.
Mengutip Reuters, kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (MDEX) menurun 23 ringgit atau sebesar 0,57 persen menjadi 4.017 ringgit per ton pada awal perdagangan. Pelemahan ini sejalan dengan pergerakan minyak nabati lain, yakni kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian merosot 0,43 persen dan kontrak minyak sawit Dalian melorot 1,92 persen. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai melemah 0,71 persen.
Harga minyak sawit cenderung bergerak searah dengan minyak nabati saingan, karena saling berkompetisi di pasar global minyak nabati. Tekanan tambahan datang dari pasar energi, setelah harga minyak mentah anjlok lebih dari 2 persen pada awal perdagangan Asia.
Penurunan terjadi usai Presiden Amerika, Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pembunuhan dalam penindakan Iran terhadap aksi protes nasional telah berhenti, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap aksi militer dan potensi gangguan pasokan minyak. Kondisi ini membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Pada sisi mata uang, ringgit Malaysia yang digunakan dalam perdagangan minyak sawit melemah tipis 0,02 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat CPO sedikit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Sentimen pasar juga terbebani keputusan pemerintah Indonesia yang membatalkan rencana mandatori biodiesel B50 berbasis sawit dan mempertahankan B40, karena kendala teknis dan pendanaan. Kebijakan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan pasokan CPO global.
Sementara itu, China tercatat mengimpor kedelai dalam volume rekor sepanjang 2025, seiring adanya lonjakan pembelian dari AS akibat kekhawatiran gangguan pasokan jika perang dagang dengan AS berlanjut. Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao menyebut harga minyak sawit berpotensi turun hingga level terendah 5 Januari di 3.967 ringgit per ton. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
