
RollingStock.ID – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) resmi memulai pembangunan enam proyek hilirisasi secara serentak di 13 lokasi di Indonesia, dengan total nilai investasi mencapai USD7 miliar. Proyek-proyek ini menandai dimulainya implementasi prioritas hilirisasi Fase I yang dikelola secara terintegrasi lintas sektor, mencakup energi, pangan, serta mineral dan logam.
Menurut CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani dalam keterangan resminya akhir pekan lalu, program hilirisasi merupakan agenda strategis nasional yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto dan fokus utama Danantara dalam mendorong transformasi ekonomi nasional.
Dia berharap, sejumlah proyek tersebut bisamemperkuat struktur industri dan mengurangi ketergantungan impor secara bertahap. “Ke depan, proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan dan berdaya saing global,” ujar Rosan.
Salah satu proyek utama dalam tahap ini adalah peresmian fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit-alumina-aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, yang digarap bersama INALUM dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Fasilitas tersebut meliputi smelter aluminium baru berkapasitas 600.000 metrik ton aluminium per tahun dan Smelter Grade Alumina Refinery Fase II berkapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun.
Melalui proyek strategis nasional tersebut, MIND ID sebagai holding INALUM dan ANTM menargetkan peningkatan nilai tambah hingga sekitar 70 kali lipat, dari bauksit mentah menjadi alumina dan aluminium. Harga bauksit mentah yang senilai USD40 per metrik ton dapat meningkat menjadi USD400 per metrik ton, setelah diolah menjadi alumina dan mencapai sekitar USD2.800–USD3.000 per metrik ton saat menjadi aluminium.
Pada sisi lain, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berperan dalam memastikan ketersediaan pasokan energi untuk mendukung operasional smelter aluminium. Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin menyatakan, kehadiran fasilitas ini akan menurunkan ketergantungan impor dan memberikan dampak terhadap peningkatan cadangan devisa.
Saat smelter aluminium baru beroperasi penuh, maka cadangan devisa Indonesia diperkirakan meningkat 394 persen dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun, sekaligus memberikan kepastian pasokan bahan baku bagi industri manufaktur di dalam negeri. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
