Demand Safe Haven Kian Menguat Dipicu Eskalasi Timur Tengah, Emas Lanjut Menanjak

emas
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga emas lanjut menguat didorong meningkatnya permintaan aset aman di tengah kekhawatiran konflik berkepanjangan di Timur Tengah, setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Berdasarkan laporan Reuters, emas spot meningkat 0,4 persen menjadi USD5.297,31 per ons pada pukul 01.31 WIB, setelah sempat melonjak lebih dari 2 persen di awal sesi sebelum terkoreksi akibat aksi profit taking.

Sebelumnya, emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di USD5.594,82 per ons pada 29 Januari. Emas berjangka AS untuk kontrak April 2026 ditutup meningkat 1,2 persen ke USD5.311,60 per ons. Penguatan terjadi meskipun Indeks Dolar AS (DXY) yang biasanya membebani harga emas tercatat menguat 1 persen.

Menurut Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, pasar masih menilai potensi kelanjutan serangan dalam beberapa pekan mendatang. Ketidakpastian arah konflik dinilai menjadi faktor utama yang menopang harga emas.

Dia menyebutkan, ketegangan meningkat setelah perang udara antara AS dan Israel melawan Iran meluas, termasuk serangan Israel ke Lebanon dan peluncuran rudal maupun drone Iran ke sejumlah negara Teluk.

Eskalasi konflik juga memicu lonjakan harga energi global akibat penutupan sejumlah fasilitas minyak dan gas, serta gangguan jalur pengiriman di Selat Hormuz. Analis menyebut fragmentasi geopolitik mendorong bank sentral negara-negara BRIC mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar AS dan beralih ke emas.

Sementara itu, BNP Paribas memproyeksikan bahwa permintaan investasi emas fisik menjadi pendorong utama harga tahun ini. Sepanjang tahun berjalan, harga emas sudah melonjak hampir 23 persen, setelah melesat 64 persen pada 2025. Kondisi tersebut ditopang pembelian bank sentral, arus masuk ETF dan kebijakan moneter AS yang lebih longgar.

Pada sisi lain, harga perak spot mengalami penurunan 5,7 persen menjadi USD88,46 per ons, platinum tercatat melemah 2,7 persen ke USD2.300,50 per ons dan paladium terkoreksi 0,9 persen menjadi USD1.770,66 per ons. (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top