
RollingStock.ID – Gelombang pergeseran modal global dari Amerika Serikat ke pasar negara berkembang semakin nyata, dengan sektor private credit diproyeksikan mencetak rekor transaksi baru pada tahun ini setelah banyak investor institusional dan sovereign wealth fund berupaya melepaskan ketergantungan portofolio dari Wall Street.
Berdasarkan laporan Bloomberg yang dikutip Senin (19/1), manajer aset seperti Gemcorp Capital Management dan Ninety One telah bersiap untuk menghimpun dana miliaran dolar AS untuk strategi private credit baru pada 2026, sehingga menandai babak baru perburuan imbal hasil di tengah peningkatan risiko di pasar Amerika Serikat.
Bahkan, minat bukan cuma datang dari dana pensiun dan perusahaan asuransi, tetapi juga dari sovereign wealth fund yang di periode 2024-2025 tampak agresif meneken transaksi besar, seperti Mubadala Investment dari Abu Dhabi dan Public Investment Fund Arab Saudi yang kerap bermitra dengan Apollo Global Management.
Pelaku industri menyebut, 2025 sebagai tahun terbesar sepanjang sejarah bagi private credit di emerging markets, meski kontribusinya sejak 2008 baru 4 persen dari total penggalangan dana global industri sebesar USD1,7 triliun yang selama ini didominasi transaksi di AS.
Dorongan utama pergeseran ini merupakan kejenuhan dan peningkatan risiko di AS, mulai dari persaingan yang semakin ketat, kekhawatiran penurunan kualitas perjanjian kredit, pelemahan dolar AS hingga isu independensi bank sentral. Malahan, CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon memperingatkan bahwa masih adanya “kecoak” lain di sektor keuangan yang berpotensi muncul, setelah serangkaian kebangkrutan besar, sehingga membuat investor mulai mempertanyakan konsentrasi portofolio mereka di satu pasar.
“Peningkatan minat internasional terjadi secara menyeluruh dan sovereign fund dari Afrika maupun Timur Tengah menjadi target utama,” kata Felipe Berliner, Co-founder dan Head of Structuring Gemcorp. Menurut dia, pasar berkembang menawarkan kombinasi imbal hasil yang lebih tinggi dengan metrik kredit yang relatif lebih menarik dibandingkan dengan pasar negara maju, sehingga kondisi ini semakin relevan bagi investor jangka panjang yang mencari diversifikasi.
Bagi negara berkembang, arus private credit membuka akses modal global yang lebih luas, meski dengan biaya yang sering kali lebih tinggi dibandingkan pasar publik. Dari sisi investor, pergeseran ini menciptakan peluang baru yang sebelumnya sulit dijangkau, terutama di Asia yang dinilai lebih selaras secara regulasi bagi perusahaan asuransi dan dana pensiun, serta Afrika yang membutuhkan pembiayaan infrastruktur dalam skala besar. Gemcorp yang bulan lalu menggandeng Fundo Soberano de Angola, menargetkan penyaluran investasi sedikitnya USD1 miliar ke Afrika tahun ini.
Amerika Latin masih berada pada tahap awal, dengan penggalangan dana hingga Kuartal III-2025 sebesar USD1,3 miliar atau menurun dari USD3,6 miliar pada 2024, namun tetap jauh lebih tinggi dibandingkan satu dekade lalu. Survei Preqin menunjukkan, sebesar 58 persen investor di kawasan tersebut menilai private credit sebagai kelas aset dengan peluang terbaik dalam 12 bulan ke depan.
Mubadala Capital telah mengamankan komitmen mencapai USD240 juta untuk kendaraan investasi terbarunya di Brasil, setelah menutup dana USD710 juta pada 2023. Sementara itu, dana kekayaan Panama menjadikan utang privat sebagai prioritas diversifikasi dan lindung nilai terhadap inflasi.
Di balik optimisme itu, risiko tetap menjadi perhatian, terutama perbedaan kerangka hukum dan kaburnya batas antara sektor publik dan swasta yang dapat menyulitkan penegakan kontrak. “Ada euforia dan ketakutan ketinggalan peluang yang membuat investor masuk terlalu cepat. Di emerging markets, itu sangat berbahaya,” ujar Morris DeFeo dari firma Hukum Herrick Feinstein.
Meski demikian, arus dana belum menunjukkan tanda surut, dengan Ninety One menargetkan penghimpunan USD1 miliar dari investor institusional, sehingga mencerminkan semakin kuatnya keyakinan bahwa private credit di pasar berkembang akan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi portofolio global, serta sinyal penting bagi investor saham untuk mencermati pergeseran pusat gravitasi modal dunia. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
