
RollingStock.ID – Dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan taringnya terhadap euro dan yen, setelah Federal Reserve memilih untuk menahan suku bunga acuan dan menegaskan inflasi masih berada di level tinggi, meskipun ekonomi tetap solid. Sikap wait and see bank sentral AS ini langsung memicu pembalikan arah di pasar valuta asing global.
Berdasarkan laporan Reuters dari New York, Rabu (28/1) atau Kamis (29/1) pagi WIB, euro tertekan dan merosot hingga 1 persen terhadap dolar ke posisi USD1,19163, sementara itu greenback melonjak 1,1 persen terhadap yen menjadi 153,90 yen. Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya turut menguat 0,8 persen ke level 96,667.
Penguatan tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya DXY terpuruk hingga 95,86, level terendah sejak Februari 2022, karena dipicu komentar Presiden AS, Donald Trump yang meremehkan pelemahan dolar bulan ini dan mendorong aksi jual lanjutan. “The Fed tidak melakukan apa pun, dan melakukannya dengan penuh keyakinan,” kata Kepala Strategi Pasar Corpay di Toronto, Karl Schamotta.
Pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal juga menegaskan, besaran dan waktu penyesuaian suku bunga selanjutnya akan sepenuhnya bergantung pada data dan prospek ekonomi. Analis Ballinger Group di London, Kyle Chapman mengatakan, pasar menyambut baik tidak adanya tanda-tanda bahwa The Fed tunduk pada tekanan politik, sedangkan peluang pemangkasan suku bunga tahun ini tetap terbuka, meski kemungkinan terjadi paling cepat pada musim panas, dengan inflasi bertahan di kisaran 2,5-3 persen.
Dolar juga sempat mendapat dorongan tambahan, setelah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menegaskan komitmen pemerintah terhadap kebijakan mata uang yang kuat berbasis fundamental ekonomi dan membantah adanya intervensi untuk menopang yen. Meski secara year-to-date DXY menurun hampir 2 persen setelah anjlok 9,4 persen tahun lalu, penguatan dolar justru memicu kekhawatiran di Eropa, dengan sejumlah pejabat Bank Sentral Eropa memperingatkan bahwa penguatan euro dapat memengaruhi arah kebijakan moneter ke depan. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
