Dolar AS Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Iran dan Antisipasi Risalah The Fed

abraham lincoln
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Nilai tukar dolar Amerika Serikat menguat tipis terhadap sejumlah mata uang utama, lantaran didorong peningkatan ketidakpastian pasar terkait perkembangan pembicaraan nuklir antara AS dan Iran, serta sikap hati-hati investor menjelang rilis risalah rapat terakhir Federal Reserve dan sejumlah data ekonomi penting pekan ini.

Berdasarkan laporan Reuters di New York, Selasa (17/2) atau Rabu (18/2) pagi WIB, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengatakan bahwa Iran dan AS telah mencapai kesepahaman mengenai prinsip-prinsip utama dalam putaran kedua pembicaraan tidak langsung terkait sengketa nuklir.

Namun demikian, dia menegaskan, kesepakatan final belum akan tercapai dalam waktu dekat. Situasi ini terjadi di tengah peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan, perubahan rezim di Teheran bisa menjadi hasil terbaik dari konflik yang telah berlangsung lama tersebut.

Head of Trading and Structured Products Moneycorp, Eugene Epstein mengungkapkan, dolar cenderung menguat saat ketidakpastian meningkat, karena investor beralih ke aset safe haven seperti US Treasury dan mengurangi eksposur pada saham. Menurut dia, saat ini kondisi pasar mencerminkan pola klasik risk-off, yakni investor membeli dolar AS dan US Treasury, serta melepas aset berisiko seperti saham seiring adanya potensi konflik dengan Iran.

Indeks Dolar AS (DXY) meningkat 0,05 persen ke posisi 97,15 dan mencatat penguatan untuk dua sesi berturut-turut. Dolar juga menguat tipis 0,08 persen terhadap franc Swiss menjadi 0,701 franc, sedangkan euro mengalami kenaikan 0,03 persen menjadi USD1,18533.

“Kita sebenarnya memiliki semua kondisi teknikal untuk pelemahan dolar —dengan pasar saat ini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed paling besar sejak akhir tahun lalu dan imbal hasil obligasi yang menurun— namun dolar justru menguat. Perkiraan saya, hal ini terutama disebabkan konflik Iran,” kata Epstein.

Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun menurun 0,2 basis poin menjadi 4,054 persen, mencerminkan peningkatan permintaan terhadap aset safe-haven. Di sisi lain, yen Jepang berbalik menguat setelah sempat melemah di awal perdagangan dan melanjutkan momentum positif pasca kemenangan pemilu Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Yen meningkat 0,17 persen menjadi 153,27 per dolar. Aliran dana yang masuk ke pasar saham Jepang sebelumnya diperkirakan mendukung penguatan yen, meskipun indeks Nikkei pada Selasa menurun akibat aksi profit taking usai euforia pasca pemilu mulai mereda. “Data pasar opsi juga menunjukkan investor meningkatkan posisi beli yen dan posisi jual terhadap Indeks DXY,” kata analis Morgan Stanley, Molly Nickolin.

Adapun poundsterling melemah setelah data menunjukkan tingkat pengangguran Inggris meningkat ke level tertinggi dalam lima tahun pada Desember 2025, disertai perlambatan pertumbuhan upah yang meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga Bank of England. Sterling menurun 0,52 persen menjadi USD1,356.

“Meski ada berbagai faktor lain yang mempengaruhi kinerja sterling, tren pelemahan data ekonomi Inggris dan ruang bagi pemangkasan suku bunga Bank of England yang lebih agresif tetap menjadi faktor utama,” ujar analis Goldman Sachs, Stuart Jenkins.

Untuk kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia menguat 0,58 persen terhadap greenback menjadi USD0,87375, sementara itu dolar AS menguat tipis 0,04 persen terhadap yuan offshore China ke level 6,885. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top