
RollingStock.ID – Harga emas dunia kembali menorehkan rekor tertinggi pada perdagangan Selasa, seiring data inflasi Amerika Serikat yang lebih jinak dari perkiraan di tengah memanasnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global yang mendorong investor memburu aset safe haven.
Emas spot bergerak stabil di level USD4.591,49 per ons pada pukul 01.31 WIB, setelah sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di posisi USD4.634,33 per ons pada awal sesi, berdasarkan laporan Reuters di Bengaluru, Selasa (13/1) atau Rabu (14/1) dini hari WIB. Sementara itu, emas berjangka AS kontrak Februari 2026 ditutup melemah 0,3 persen ke level USD4.599,10 per ons.
Sentimen positif di pasar logam mulia menguat, setelah data menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) inti AS pada Desember 2025 hanya naik 0,2 persen secara bulanan dan sebesar 2,6 persen secara tahunan atau lebih rendah dari proyeksi analis masing-masing 0,3 persen dan 2,7 persen. Data ini memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter.
“Alasan nada pasar yang sedikit positif secara menyeluruh adalah data CPI yang cenderung moderat, yang meningkatkan peluang penurunan suku bunga The Fed ke depan,” kata Direktur Perdagangan High Ridge Futures, David Meger.
Menyusul rilis data inflasi itu, Presiden Donald Trump kembali mendesak agar suku bunga dipangkas secara signifikan. Meski The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan 27-28 Januari 2026. Saat ini para pelaku pasar memproyeksikan, setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga di sepanjang 2026.
Selain faktor moneter, ketegangan geopolitik turut mempertebal daya tarik emas sebagai aset safe haven. Kekhawatiran terhadap independensi The Fed meningkat, setelah pemerintahan Trump membuka penyelidikan pidana terhadap Chairman Jerome Powell, langkah yang menuai kritik dari mantan pejabat bank sentral AS dan bankir bank sentral global.
Pada sisi lain, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif 25 persen terhadap negara-negara yang berdagang dengan Iran, sehingga berpotensi memicu kembali ketegangan dengan China. Sementara itu, Rusia dilaporkan terus melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah kota di Ukraina.
Di tengah prospek tersebut, Commerzbank menaikkan proyeksi harga emas akhir 2026 menjadi USD4.900 per ons. CME Group pada Seninabu juga menyatakan bahwa pihaknya akan menyesuaikan penetapan margin perdagangan logam mulia sebagai respons atas peningkatan volatilitas pasar.
Lonjakan harga bukan hanya terjadi pada emas, tercatat perak spot melonjak 2,1 persen ke USD86,74 per ons, setelah mencetak level tertinggi sepanjang masa di posisi USD89,10 per ons pada awal sesi. Sementara itu, harga platinum spot tercatat stagnan di USD2.343,35 per ons dan paladium menguat 1,4 persen ke level USD1.868,68 per ons.
“Meski indikator teknikal menunjukkan ada potensi koreksi, pelaku pasar tetap menyukai opsi bullish untuk perak. Investor perlu bersiap menghadapi pergerakan balik yang tajam di tengah kondisi volatil ini, meski tren bullish secara umum masih bertahan,” ujar trader logam mulia InProved, Hugo Pascal. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
