
RollingStock.ID – Harga emas dunia melonjak tajam dan menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah di atas USD5.100 per ons pada awal pekan ini, karena dipicu lonjakan permintaan aset safe-haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan global.
Berdasarkan laporan Reuters dari Bengaluru, Senin (26/1) atau Selasa (27/1) dini hari WIB, reli tersebut tidak hanya terjadi pada emas, melainkan juga merambat ke perak, platinum dan paladium yang secara serentak mencetak rekor baru.
Emas spot melesat 2 persen ke level USD5.077,22 per ons pada pukul 01.31 WIB, setelah sempat menyentuh rekor intraday USD5.110,5 per ons. Di pasar berjangka Amerika Serikat, kontrak emas pengiriman Februari 2026 ditutup menguat 2,1 persen di posisi USD5.082,50 per ons.
Kenaikan tajam tersebut mencerminkan peningkatan kecemasan investor terhadap arah ekonomi dan politik global. Presiden Sprott Inc, Ryan McIntyre menyebutkan, emas mendapat sokongan kuat dari tingginya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, serta peran bank sentral yang tetap agresif membeli emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa dan upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Dia menambahkan, arus dana ke produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas fisik kembali mengalir deras, dengan total kepemilikan melonjak hingga 20 persen secara tahunan. Sentimen pasar semakin memanas, setelah Presiden AS, Donald Trump pada Sabtu menyatakan akan mengenakan tarif 100 persen terhadap Kanada, jika negara ini tetap melanjutkan kesepakatan dagang dengan China.
Menurut Kepala Riset BullionVault, Adrian Ash, kebijakan dan pernyataan Trump menjadi faktor penggerak utama pasar logam mulia tahun ini. Dia beranggapan, lonjakan harga juga didorong masuknya gelombang investor baru, terutama investor ritel di Asia dan Eropa, yang berbondong-bondong menambah kepemilikan emas dan perak fisik.
Selain faktor geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada potensi intervensi terkoordinasi di pasar mata uang oleh otoritas AS dan Jepang, serta agenda rapat Federal Reserve pekan ini. The Fed diperkirakan bakal mempertahankan suku bunga acuan, namun ketidakpastian meningkat seiring munculnya isu penyelidikan pidana pemerintahan Trump terhadap Chairman The Fed, Jerome Powell.
Sepanjang tahun berjalan, harga emas sudah melonjak hampir 18 persen setelah sebelumnya meroket sekitar 64 persen di sepanjang 2025. Pada tahun lalu, logam mulia ini juga mencetak tonggak penting dengan menembus level psikologis USD3.000 dan USD4.000 per ons untuk pertama kalinya.
Sejumlah lembaga keuangan global masih melihat ruang kenaikan harga emas yang terbuka lebar. Societe Generale memproyeksikan, harga emas dapat mencapai USD6.000 per ons pada akhir tahun ini. Sementara itu, Morgan Stanley menilai reli emas berpotensi untuk berlanjut, dengan target yang lebih optimistis di level USD5.700 per ons.
Pada pasar logam mulia lainnya, harga perak spot mencetak rekor baru di posisi USD117,69 per ons dan terakhir melonjak 10,2 persen ke USD113,46 per ons, setelah menembus level USD100 pada akhir pekan lalu. Analis UBS, Giovanni Staunovo menilai, momentum perak masih kuat, tercermin dari harga di China yang diperdagangkan dengan premi signifikan dibandingkan London.
Harga platinum spot juga terpantau menguat 1,8 persen ke USD2.816,38 per ons, setelah sempat menyentuh rekor USD2.918,80 per ons. Adapun paladium spot meloambung 5,9 persen ke posisi USD2.127,68 per ons yang merupakan level tertinggi sejak 2022, sehingga mempertegas bahwa reli meluas di pasar logam mulia global. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
