Fitch Proyeksikan Pasar Surat Utang RI di 2026 Tembus USD750 Miliar

fitch2
Fitch Ratings – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Fitch Ratings memperkirakan, aktivitas pasar utang atau debt capital market (DCM) Indonesia akan tetap didominasi penerbitan pemerintah, dengan total nilai outstanding diproyeksikan meningkat hingga USD750 miliar pada akhir 2026.

Menurut Managing Director-Global Head of Islamic Finance Fitch Ratings (Dubai), Bashar Al Natoor dalam keterangannya yang dikirim melalui surat elekronik, Jumat (13/2), kebutuhan pembiayaan akibat defisit anggaran, upaya diversifikasi sumber dana dan pengembangan keuangan syariah akan terus mendukung pasokan surat utang di pasar.

Dia menyebutkan, outstanding DCM Indonesia telah mencapai USD731 miliar pada 2025, sementara itu total penerbitan sepanjang 2025 sebesar  USD230 miliar. Pasar tetap bertumpu pada investor domestik, meskipun pemerintah mulai memperluas sumber pendanaan luar negeri, antara lain melalui penerbitan perdana obligasi Kangaroo dan Dim Sum.

Fitch juga mencatat, Indonesia menjadi penerbit sukuk terbesar di dunia pada 2025. Porsi sukuk meningkat hingga separuh dari seluruh penerbitan DCM, melonjak dari 29,2 persen pada 2024. Seluruh sukuk Indonesia yang diperingkat Fitch berada pada kategori investment grade dengan prospek “Stabil” dan tanpa kasus gagal bayar. Selain itu, penerbitan sukuk non-pemerintah meningkat 163 persen, meski pangsanya relatif kecil, melampaui pertumbuhan penerbitan obligasi konvensional yang naik 39 persen.

Bashar mengatakan, Fitch beranggapan bahwa kondisi suku bunga yang lebih mendukung akan menopang pertumbuhan pasar. Dia memperkirakan, suku bunga acuan Federal Reserve akan menurun menjadi 3,25 persen pada 2026 dan sebesar 3 persen pada 2027. Bank Indonesia diperkirakan masih akan memangkas BI Rate total 50 basis poin pada periode 2026-2027, setelah penurunan sebesar 125 basis poin di sepanjang 2025.

Lebih lanjut Bashar menyampaikan, dampak pembekuan sementara perubahan terkait indeks MSCI terhadap pasar DCM Indonesia sejauh ini masih terbatas. Kepemilikan asing pada surat berharga negara domestik tercatat relatif stabil di posisi 13,2 persen per 3 Februari 2026, hanya sedikit berubah dari 13,4 persen pada akhir 2025.

Dampak kebijakan tersebut dinilai lebih terasa pada pasar ekuitas, sementara itu potensi dampak terhadap pasar obligasi kemungkinan bersifat tidak langsung melalui volatilitas nilai tukar rupiah. Meski prospeknya dinilai positif, Fitch mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati, seperti volatilitas rupiah dan harga komoditas, perlambatan ekonomi China, perubahan sentimen pasar negara berkembang dan potensi dampak kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap perdagangan global. (*)

Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top