
RollingStock.ID – Harga minyak melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin (12/1) di tengah tarik-menarik geopolitik. Pada satu sisi, gelombang protes di Iran memicu spekulasi gangguan pasokan, sedangkan di sisi lain prospek kembalinya minyak Venezuela ke pasar global menahan laju kenaikan harga.
Minyak mentah berjangka Brent sebagai patokan internasional meningkat 31 sen atau 0,49 persen menjadi USD63,65 per barel pada pukul 07.06 WIB, berdasarkan laporan Reuters di Singapura hari ini. Sementara itu patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka WTI tercatat menguat 30 sen atau 0,51 persen ke level USD59,42 per barel.
Kedua kontrak tersebut sudah melonjak lebih dari 3 persen di sepanjang pekan lalu, atau mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober 2025. Reli ini terjadi seiring dengan peningkatan tekanan pemerintah Iran terhadap demonstrasi terbesar sejak 2022.
Eskalasi di Iran tersebut diterjemahkan pasar sebagai risiko nyata terhadap aliran minyak. Kelompok pemantau hak asasi manusia (HAM) melaporkan bahwa ada lebih dari 500 orang tewas akibat kerusuhan sipil, sedangkan Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi jika kekuatan bersenjata digunakan terhadap demonstran.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters pada Minggu (11/1) bahwa Trump dijadwalkan bertemu para penasihat seniornya pada Selasa pekan ini untuk membahas opsi kebijakan terkait Iran.
Kekhawatiran pasar semakin mengental, setelah analis ANZ yang dipimpin Daniel Hynes menyoroti seruan mogok kerja di sektor industri minyak Iran. Mereka memperingatkan situasi ini berisiko mengganggu sedikitnya 1,9 juta barel per hari ekspor minyak, angka yang cukup untuk menggeser keseimbangan pasar dalam waktu singkat.
Euforia itu tidak sepenuhnya lepas dari rem, karena harga tertahan olehh kabar bahwa Venezuela segera melanjutkan ekspor minyak, menyusul lengsernya Presiden Nicolas Maduro dan pernyataan Trump pekan lalu bahwa pemerintah di Caracas akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak.
“Informasi tersebut memicu persaingan di kalangan perusahaan minyak untuk memburu kapal tanker dan menyiapkan operasi pengapalan dari kapal dan pelabuhan Venezuela yang infrastrukturnya telah menurun,” menurut narasumber.
Bahkan, perusahaan perdagangan komoditas Trafigura menyatakan dalam pertemuan dengan Gedung Putih pada Jumat lalu, bahwa kapal pertamanya akan memulai untuk memuat minyak dalam waktu sepekan ke depan. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
