Harga Minyak Naik Lima Sesi Beruntun di Tengah Ketegangan AS-Iran

minyak
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga minyak dunia melonjak 1 persen pada perdagangan Rabu, mencatat kenaikan lima sesi berturut-turut. Kenaikan signifikan ini dipicu peningkatan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari Iran di tengah kemungkinan serangan Amerika Serikat dan risiko aksi balasan terhadap kepentingan AS di kawasan.

Berdasarkan laporan Reuters, minyak mentah berjangka Brent sebagai patokan internasional ditutup meningkat USD1,05 atau sebesar 1,6 persen menjadi USD66,52 per barel di New York pada Rabu (14/1) atau Kamis (15/1) pagi WIB. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) menguat 87 sen atau sebesar 1,42 persen ke level USD62,02 per barel.

Ketegangan meningkat setelah Iran memperingatkan sekutu-sekutu AS di Timur Tengah bahwa mereka akan menyerang pangkalan militer AS di wilayah tersebut jika Washington melancarkan serangan. Seorang pejabat AS mengatakan pada Rabu, AS telah menarik personel dari sejumlah pangkalan utama di kawasan sebagai langkah pencegahan di tengah meningkatnya ketegangan regional.

“Kita berada dalam periode ketidakstabilan geopolitik dan potensi gangguan pasokan,” ujar Managing Director Onyx Capital Group, Jorge Montepeque. Dia menilai, protes di Iran berpotensi mengarah pada perubahan rezim, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan AS.

Presiden AS, Donald Trump pada Selasa, mendesak rakyat Iran untuk terus melakukan protes dan menyatakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan. Analis Citigroup dalam catatannya menyebutkan, protes di Iran berisiko memperketat keseimbangan pasokan minyak global melalui potensi gangguan jangka pendek maupun meningkatnya premi risiko geopolitik.

Harga minyak juga mendapat dukungan dari pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari yang menyampaikan optimisme terhadap prospek ekonomi dan memperkirakan inflasi akan mereda. Namun, tekanan sempat muncul setelah data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS melonjak 3,4 juta barel menjadi 422,4 juta barel dan stok bensin meningkat 9 juta barel atau jauh di atas perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters.

Meski demikian, fokus pasar tetap tertuju pada ketegangan Iran, sementara itu kenaikan harga dibatasi perkembangan di Venezuela. Negara anggota OPEC tersebut mulai membalikkan pemangkasan produksi di bawah embargo AS. Hal ini seiring kembalinya ekspor minyak, dengan dua tanker raksasa dilaporkan meninggalkan perairan Venezuela yang membawa masing-masing 1,8 juta barel minyak mentah sebagai bagian awal dari kesepakatan pasokan dengan AS. (*)

Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top