Harga Minyak Terancam Tembus USD100 per Barel Imbas Perang AS-Iran

minyak2
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga minyak mentah dunia berisiko menembus USD100 per barel, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan terbaru Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Laporan Investing pada Minggu (1/2) menyoroti potensi lonjakan harga seiring terganggunya stabilitas jalur distribusi energi global, terutama di kawasan Teluk. Saat ini pasar memusatkan perhatian pada Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Lalu lintas kapal tanker dilaporkan mulai berkurang tajam, meski belum ada penutupan resmi, gangguan sekecil apa pun di jalur ini dinilai dapat memicu lonjakan harga signifikan dalam waktu singkat.

Menurut Analis RBC Capital Markets, Helima Croft harga minyak dapat melonjak drastis apabila konflik berkepanjangan, dan Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam IRGC meningkatkan tekanan terhadap kepentingan ekonomi AS. Strategi ini, kata dia, berpotensi menargetkan titik sensitif ekonomi Presiden Donald Trump, sehingga memperbesar gejolak pasar energi global.

Serangan terbaru diyakini memiliki dampak regional lebih luas dibandingkan operasi sebelumnya, termasuk kerugian besar di pihak Iran hingga menyentuh lingkar kepemimpinan tertinggi, seperti Ayatollah Ali Khamenei. Iran juga dilaporkan menyerang pangkalan militer AS dan menargetkan infrastruktur penting di kawasan Teluk, sehingga memperbesar risiko eskalasi lanjutan.

Croft menegaskan, IRGC memiliki berbagai opsi untuk menghambat distribusi tanpa harus menutup Selat Hormuz secara formal, mulai dari penggunaan kapal kecil, ranjau laut, drone hingga rudal. Dalam skenario gangguan serius terhadap pasokan atau distribusi, harga minyak dinilai sangat mungkin menembus USD100 per barel atau bahkan melampauinya.

Kepala Riset Global Barclays, Ajay Rajadhyaksha menilai, lonjakan jangka pendek mungkin tidak langsung mengguncang ekonomi AS, namun risiko utama muncul jika pasokan melalui Selat Hormuz benar-benar terganggu atau ladang minyak Arab Saudi terdampak.

Lebih lanjut Ajay mengatakan, dengan kapasitas cadangan produksi OPEC+ yang terbatas dan tambahan pasokan non-OPEC yang memerlukan waktu, pasar menghadapi tekanan yang tidak mudah diredam apabila konflik terus meningkat. (*)

Penulis: Gavin D Varyn Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top