
RollingStock.ID – Harga minyak dunia kembali tertekan, menandai peningkatan kekhawatiran investor terhadap potensi kelebihan pasokan global pada tahun ini, di tengah ketidakpastian geopolitik menyusul aksi Presiden AS, Donald Trump yang menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Berdasarkan laporan Reuters, Selasa (6/1) waktu New York atau Rabu (7/1) pagi WIB, minyak mentah Brent sebagai acuan global ditutup melemah 1,72 persen atau ke level USD60,70 per barel. Pelemahan ini mencerminkan adanya peningkatan ekspektasi pasar bahwa keseimbangan minyak global akan tetap longgar dalam jangka menengah.
Tekanan serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menurun lebih dalam, yakni 2,04 persen ke USD57,13 per barel. Penurunan simultan pada kedua benchmark utama menegaskan bahwa sentimen bearish cukup meluas, bukan spesifik kawasan.
Analis PVM Oil, Tamas Varga menilai, pelaku pasar masih terlalu dini untuk mengukur dampak langsung dari penangkapan Maduro terhadap pasar minyak. Namun dia menegaskan, pasar sudah melihat satu kesimpulan utama, yakni pasokan minyak global pada 2026 diperkirakan mencukupi, bahkan tanpa tambahan signifikan dari Venezuela yang merupakan anggota OPEC.
Pandangan tersebut sejalan dengan survei Reuters pada Desember 2025 yang menunjukkan mayoritas pelaku pasar memperkirakan harga minyak akan berada di bawah tekanan tahun depan. Ekspektasi ini menjadi faktor utama yang membatasi potensi rebound harga.
Ironisnya, ketegangan politik di Venezuela justru dinilai berpotensi menambah pasokan, karena meningkatkan peluang berakhirnya embargo minyak Amerika Serikat terhadap negara tersebut. Jika sanksi dicabut, Venezuela memiliki ruang untuk meningkatkan produksi, meski secara bertahap.
Analis Rystad Energy, Janiv Shah memperkirakan bahwa tambahan pasokan dari Venezuela dalam dua hingga tiga tahun ke depan hanya 300.000 barel per hari dengan belanja modal yang terbatas. Untuk mendorong produksi menuju 3 juta barel per hari pada 2040, Venezuela memerlukan komitmen investasi internasional yang signifikan di luar pendanaan internal PDVSA.
Di luar Amerika Latin, risiko geopolitik lain juga membayangi pasar. Perusahaan energi India, Reliance Industries menyatakan tidak menerima pasokan minyak Rusia pada Januari, setelah Presiden AS, Donald Trump memperingatkan kemungkinan kenaikan tarif terhadap India terkait pembelian minyak Rusia. Dinamika ini berpotensi menekan ekspor Rusia sekaligus menambah volatilitas harga minyak global, namun belum cukup kuat untuk mengimbangi kekhawatiran oversupply yang kini menjadi fokus investor. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
