
RollingStock.ID – Dalam sehari perdagangan di awal tahun ini, terpantau insider activity terjadi di sejumlah emiten, mulai dari perusahaan di bawah naungan Bakrie Group hingga emiten penyuplai tenaga cleaning service dan security.
Perubahan kepemilikan saham yang dilakukan “pihak/orang dalam” dengan kepemilikan di atas 5 persen tersebut tersaji dalam laporan terakhir PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk semua Sub Rekening Efek (SRE) yang tergabung di Single Investor Identification (SID) per 02 Januari 2026.
Saat perdagangan saham di Bursa EFek Indonesia (BEI) pada 2 Januari 2026, sebanyak 143 juta saham PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING) dibeli olehh Pohon Mangga Sejahtera yang sekaligus menjadi investor baru di KING dengan kepemilikan 5,5 persen dari jumlah saham beredar.
Pada hari yang sama, Chengdong Investment Corporation (CIC) kembali melanjutkan divestasi saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebanyak 555 juta. Dengan demikian, kepemilikan investor asal China di emiten Bakrie Group ini tersisa 20.839.995.830 saham atau setara 5,61 persen dari sebelumnya (30/12) sebesar 5,76 persen.
Emiten Bakrie Group lainnya, yakni PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga mengalami perubahan komposisi kepemilikan saham, setelah pada 2 Januari 2026 PT Adhesti Tungkas Pratama kembali melego saham DEWA sebanyak 52.328.900 lembar. Sehingga, saat ini kepemilikannya tersisa 3.425.000.000.066 saham atau 8,42 persen dari sebelumnya 8,55 persen.
Yang tidak kalah menarik perhatian, pada 2 Januari 2026 pemegang saham pengendali (PSP) PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC), yakni PT Bogamulia Nagadi melanjutkan aksi beli. Maka, kepemilikannya di TSPC menjadi 90,32 persen atau sebanyak 4.073.461.188 lembar.
Saat ini kepemilikan investor publik di TSPC sebesar 9,54 persen atau masih berada di atas batas minimal free float yang berlaku saat ini sebesar 7,5 persen. Secara jumlah, kepemilikan publik masih jauh berada di atas batas minimal 50 juta lembar saham, yakni mencapai 430.764.582 saham.
Sekadar informasi, pada tahun ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sedang mendorong batas minimal saham free float menjadi 10 persen dari jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh emiten.
Ketika membuka perdagangan di BEI, Jumat (2/1), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi menyampaikan bahwa penerapan free float minimal 10 persen akan diberlakukan pada tahun ini atau fase pertama menuju 25 persen hingga 30 persen di masa mendatang.
“(Penerapan free float) secepatnya. Di tahun ini harus, tetapi tentunya free float ini harus ada persiapan yang matang dan harus berjenjang,” kata Inarno di Jakarta, Jumat (2/1) ketika ditanya mengenai waktu yang tepat untuk penerapan free float minimal 10 persen dari jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh emiten. (Satya Darmawan)
