Kemenangan Takaichi Tekan Yen, Pasar Waspadai Arah Stimulus Jepang

sanae
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Pelemahan yen Jepang berlanjut pada awal perdagangan Asia, ketika pasar mencerna kemenangan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi dalam pemilu sehari sebelumnya. Hasil tersebut dipandang membuka ruang bagi kebijakan stimulus fiskal yang lebih agresif dan berpotensi semakin menekan mata uang yen.

Berdasarkan laporan Reuters dari Singapura, Senin (9/2), yen sempat turun hingga 0,3 persen ke level 157,72 per dolar AS. Kondisi ini memperpanjang penurunan menjadi tujuh hari berturut-turut sekaligus menyentuh posisi terlemah dalam dua pekan terakhir.

Pada pemilu Jepang, Takaichi diproyeksikan mengamankan 328 dari total 465 kursi di majelis rendah parlemen untuk Partai Demokrat Liberal (LDP). Bersama mitra koalisinya, Partai Inovasi Jepang (Ishin), pemerintahan kini menguasai mayoritas dua pertiga kursi. Sehingga, berpeluang meloloskan kebijakan meski tanpa dukungan majelis tinggi yang tidak berada di bawah kendalinya.

Analis Mizuho, Shoki Omori di Tokyo, menilai bahwa kemenangan telak LDP menghapus ketidakpastian politik dan memperkuat pelaksanaan kebijakan, tetapi perhatian investor kini tertuju pada bagaimana rancangan stimulus fiskal akan disusun dan dikomunikasikan.

Lebih lanjut Omori mengatakan, risiko ekspansi fiskal sebagian besar telah diperhitungkan pasar sebelum pemilu, sehingga pertanyaan utama adalah apakah risiko tersebut akan semakin besar atau justru mereda secara bertahap.

Untuk pasar global, Indeks Dolar AS (DXY) relatif stabil di level 97,683 pada awal pekan yang akan dipenuhi rilis data penting Amerika Serikat, termasuk penjualan ritel, inflasi, serta laporan ketenagakerjaan yang sempat tertunda dan dijadwalkan terbit pada Rabu pekan ini.

Pelaku pasar juga mulai meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed pada tahun ini. Kontrak berjangka Fed Funds Rate mencerminkan probabilitas 19,9 persen untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 18 Maret. Angka ini meningkat dari peluang 18,4 persen pada Jumat pekan lalu, berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group.

Pada pasar mata uang lainnya, poundsterling melemah 0,1 persen menjadi USD1,3598 di tengah perkembangan krisis politik yang melibatkan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, setelah kepala stafnya Morgan McSweeney mengundurkan diri pada Minggu (8/2) terkait kontroversi penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar untuk AS yang disorot karena kaitannya dengan Jeffrey Epstein.

Terhadap yuan China yang diperdagangkan di Hong Kong, dolar AS terpantau stabil di level 6,93 yuan, sedangkan dolar Australia mengalami kenaikam 0,2 persen menjadi USD0,7028, dolar Selandia Baru menguat 0,1 persen menjadi USD0,6026, dan euro relatif tidak berubah di level USD1,1819. (*)

Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top