
RollingStock.ID – Harga minyak dunia menguat ke level tertinggi dalam tujuh pekan pada perdagangan Senin, akibat terkatrol kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan ekspor Iran di tengah peningkatan tekanan politik dan keamanan di negara tersebut.
Berdasarkan laporan Reuters di New York, Senin (12/1) atau Selasa (13/1) pagi WIB. Minyak mentah berjangka Brent sebagai patokan internasional ditutup meningkat 53 sen atau 0,8 persen ke level USD63,87 per barel, sementara itu minyak mentah berjangka WTI menguat 38 sen atau 0,6 persen menjadi USD59,50 per barel. Penutupan tersebut merupakan yang tertinggi bagi Brent sejak 18 November dan bagi WTI sejak 5 Desember 2025.
Kenaikan harga minyak terjadi di tengah dinamika politik Iran-Amerika Serikat. Teheran menyatakan, tetap membuka jalur komunikasi dengan Washington, sedangkan Presiden AS, Donald Trump mempertimbangkan respons atas penindakan berdarah terhadap demonstrasi nasional yang disebut sebagai salah satu tantangan paling serius bagi pemerintahan ulama Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Data dari Kpler dan Vortexa menunjukkan, saat ini Iran menyimpan volume minyak yang sangat besar di laut, setara 50 hari produksi, seiring penurunan pembelian olehh China dan upaya Teheran mengamankan pasokan dari risiko serangan AS. Namun, penguatan harga minyak dibatasi ekspektasi peningkatan pasokan dari Venezuela, anggota OPEC lain yang juga berada di bawah sanksi internasional.
Venezuela diperkirakan segera melanjutkan ekspor minyak, setelah lengsernya Presiden Nicolas Maduro. Trump pekan lalu menyebut bahwa pemerintah di Caracas akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya terkena sanksi kepada AS.
Sejumlah perusahaan minyak kini berlomba mencari kapal tanker dan menyiapkan pengapalan, sementara itu Trafigura menyatakan kapal pertamanya diperkirakan mulai memuat minyak pada pekan depan. Pada saat yang sama, dua supertanker berbendera China yang semula menuju Venezuela dilaporkan berbalik arah menuju Asia.
Investor juga mencermati potensi gangguan pasokan dari Rusia akibat serangan Ukraina ke fasilitas energi, serta kemungkinan sanksi AS yang lebih ketat terhadap Moskow. Goldman Sachs memperkirakan, harga minyak cenderung melemah tahun ini, seiring dengan bertambahnya pasokan baru yang berpotensi menciptakan surplus, meski risiko geopolitik yang melibatkan Rusia, Venezuela dan Iran akan tetap memicu volatilitas. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
