Ketegangan Teluk Persia dan Libur Panjang AS, Picu Kenaikan Harga Minyak

minyak
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga minyak dunia menutup perdagangan dengan penguatan moderat, —bukan semata karena lonjakan permintaan— melainkan dipicu kombinasi faktor psikologis pasar menjelang akhir pekan panjang di Amerika Serikat dan kekhawatiran geopolitik yang belum sepenuhnya sirna.

Sejumlah investor memilih menutup posisi jual sebelum libur tiga hari memperingati Martin Luther King. Berdasarkan laporan Reuters, minyak mentah Brent di perdagangan Jumat (16/1) waktu setempat ditutup meningkat 37 sen atau 0,58 persen ke level USD64,13 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 25 sen atau 0,42 persen ke USD59,44 per barel. Kenaikan ini lebih banyak bersumber dari aksi pembelian jangka pendek untuk mengamankan pasokan selama pasar tutup.

John Kilduff, mitra di Again Capital LLC menilai, pergerakan harga pada Jumat didorong keengganan pelaku pasar menahan posisi jual di sepanjang akhir pekan panjang. Sentimen kehati-hatian itu diperkuat dinamika geopolitik, meski probabilitas terjadinya konflik dalam waktu dekat dinilai masih terbatas. Phil Flynn dari Price Futures Group menyebutkan, pergerakan kelompok kapal induk AS menuju kawasan Teluk Persia memang menimbulkan perhatian pasar, namun tidak serta-merta mengindikasikan segera terjadi aksi militer.

Kapal induk Angkatan Laut AS, USS Abraham Lincoln dijadwalkan tiba di Teluk Persia pada pekan depan, setelah sebelumnya beroperasi di Laut China Selatan. Kehadiran armada tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga premi risiko geopolitik tetap melekat pada harga minyak, meskipun belum cukup kuat untuk mendorong reli lanjutan. Sementara itu, potensi peningkatan pasokan dari Venezuela berperan sebagai penyeimbang sentimen.

Flynn menilai, sejauh ini tambahan pasokan dari negara tersebut tidak sebesar yang sebelumnya dikhawatirkan pasar, sehingga reli harga pada Jumat lebih mencerminkan faktor teknikal dan psikologis menjelang libur atau bukan perubahan signifikan pada arus pasokan global. Sepanjang pekan ini, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan, setelah gelombang protes di Iran dan sinyal keras dari Presiden AS, Donald Trump yang memicu spekulasi risiko konflik.

Namun demikian, sentimen itu berbalik pada Kamis, ketika Trump menyatakan penindakan terhadap demonstran di Teheran mulai mereda, Maka, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat aksi militer pun menurun. Pernyataan ini menyeret harga anjlok lebih dari 4 persen dalam satu sesi. Analis Commerzbank mengingatkan, risiko terbesar tetap terletak pada kemungkinan Iran memblokade Selat Hormuz jika eskalasi terjadi, karena jalur tersebut dilalui sekitar seperempat pasokan minyak yang diangkut melalui laut.

Sejumlah analis menilai, pasokan minyak dunia berpotensi meningkat sepanjang tahun ini, sehingga membatasi ruang kenaikan harga berbasis risiko geopolitik. Analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva mengungkapkan bahwa terlepas dari derasnya spekulasi makro dan isu geopolitik, keseimbangan fundamental masih menunjukkan kondisi pasokan yang relatif longgar. Tanpa lonjakan permintaan yang nyata, terutama dari China, maka harga minyak akan bergerak terbatas, dengan Brent berada di kisaran USD57-USD67 per barel. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top