Kinerja UNTR Tertekan Curah HujanTinggi dan Pelemahan Sektor Kehutanan

untr

RollingStock.ID – Kinerja operasional PT United Tractors Tbk (UNTR) pada November 2025 menunjukkan adanya tekanan dari berbagai lini usaha, terutama akibat pelemahan permintaan alat berat sektor kehutanan dan curah hujan tinggi yang mengganggu produksi tambang.

Penilaian tersebut disampaikan Equity Research Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Reggie Parengkuan dan Ryan Winipta dalam laporannya yang dipublikasi di Jakarta, Selasa (6/1), keduanya menyampaikan penjualan alat berat Komatsu pada November 2025 menurun 12 persen (month-to-month) menjadi 306 unit.

Penurunan paling tajam berasal dari sektor kehutanan yang anjlok hingga 73 persen dibandingkan sebulan sebelumnya, meskipun permintaan dari sektor pertambangan dan agro relatif menguat. Secara kumulatif, penjualan Komatsu selama sebelas bulan pertama di 2025 mencapai 4.305 unit atau bertumbuh 3 persen secara tahunan. Capaian masih sejalan dengan target revisi UNTR untuk Tahun Buku 2025.

Dari sisi kontraktor tambang, PT Pamapersada Nusantara (Pama) mencatat penurunan produksi batubara dan volume overburden pada November 2025, seiring dengan peningkatan intensitas hujan. Produksi batubara menurun menjadi 13,2 juta ton, sementara itu volume overburden melemah menjadi 95 juta bcm. Secara akumulatif di periode Januari-November 2025, produksi batubara dan overburden berada di kisaran target tahunan UNTR.

Penjualan batubara PT Tunas Inti Abadi (TTA) juga melemah secara bulanan, terutama diakibatkan penurunan signifikan pada penjualan batubara kokas. Volume penjualan kokas tercatat melorot menjadi 272 ribu ton, meski penjualan batubara termal relatif stabil. Kendati demikian, secara kumulatif hingga November 2025, kinerja penjualan baik untuk batubara termal maupun kokas tetap mencatatkan pertumbuhan tahunan dan berada di jalur target tahunan UNTR.

Pada sisi lain, penjualan emas menjadi penopang yang relatif stabil meskipun tidak menunjukkan pertumbuhan signifikan pada November 2025. Volume penjualan emas tercatat stagnan di level 19 ribu ons, dengan akumulasi penjualan sebelas bulan mencapai 216 ribu ons. Tetapi, potensi tidak tercapainya target tahunan membayangi segmen ini menyusul penghentian sementara operasi tambang Martabe akibat banjir di Sumatera Utara sejak awal Desember 2025 dan masih tertahannya izin usaha pertambangan SJR oleh Kementerian ESDM.

Dengan mempertimbangkan kinerja operasional tersebut, laba bersih UNTR pada Kuartal IV 2025 diproyeksikan meningkat secara kuartalan, terutama ditopang lonjakan harga emas. Namun secara keseluruhan, laba bersih tahun berjalan diperkirakan tetap sejalan dengan proyeksi internal dan berada di bawah konsensus pasar. Maka, rekomendasi ditahan dengan target harga berbasis Sum of the Parts (SOTP) tetap di level Rp27.000 per saham. Risiko utama yang masih perlu dicermati adalah potensi pelemahan harga batubara, yang dapat menekan margin TTA, serta berdampak lanjutan pada volume produksi Pama. (*)

Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top