
RollingStock.ID – PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) mengaku akan lebih terkonsentrasi pada pengembangan sistem, produk dan manajemen risiko sebagai prioritas utama pengembangan infrastruktur pasar modal, setelah di 2025 melakukan penguatan fondasi yang lebih terintegrasi dan adaptif terhadap dinamika pasar.
Menurut Direktur Utama KPEI, Iding Pardi, penguatan tersebut tercermin dari keberhasilan KPEI mengimplementasikan layanan kliring, penyelesaian dan penjaminan transaksi derivatif keuangan, sehingga memperluas spektrum produk pasar modal dan meningkatkan keandalan pengelolaan risiko.
“Dengan landasan pencapaian sepanjang 2025 dan arah strategis yang jelas di 2026, KPEI berkomitmen menjalankan perannya sebagai CCP (central counterparty) yang kredibel, resilien dan adaptif dalam mendukung stabilitas sistem keuangan nasional dan pengembangan pasar modal,” kata Iding di Jakarta, Selasa (30/12).
Dia mengatakan, saat ini efisiensi industri juga diperkuat oleh pemberian insentif haircut Triparty Repo, sejalan dengan upaya mengoptimalkan Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) dan penerapan modul validasi haircut pada sistem pelaporan SPP-MKBD sebagai bagian dari penguatan pengawasan berbasis sistem.
Peran KPEI dalam pendalaman instrumen lintas pasar semakin strategis, setelah implementasi layanan Triparty Agent Repo (TPA Repo) untuk memfasilitasi transaksi repo antarbank berbasis Surat Berharga Negara (SBN). Inisiatif ini diperkuat dengan pengoperasian Integrated Collateral Management System (ICMS) untuk transaksi bilateral dan TPA Repo, yang mampu mendorong efisiensi operasional, mitigasi risiko dan optimalisasi pemanfaatan agunan.
Di tengah ekspansi layanan tersebut, Iding mengaku, KPEI tetap menjaga disiplin tata kelola dan ketahanan operasional, seperti pembaruan sertifikasi ISO pada berbagai aspek manajemen. Pembentukan Komite Teknologi Informasi turut memperkuat arah pengembangan teknologi, agar selaras dengan kebutuhan bisnis dan mitigasi risiko.
Pada sisi operasional, kinerja kliring sepanjang 2025 menunjukkan konsistensi dan efisiensi yang terjaga. Hingga 19 Desember 2025, rata-rata nilai penyelesaian transaksi mencapai Rp5,46 triliun dari RNTH sebesar Rp17,99 triliun, dengan efisiensi penyelesaian pasar reguler di atas 63 persen. Volume penyelesaian transaksi bursa tercatat 8,77 miliar lembar saham, sedangkan transaksi Pinjam Meminjam Efek membukukan nilai Rp118,39 miliar dengan volume 37,56 juta lembar saham.
Iding menyampaikan, pengelolaan risiko kredit tetap menjadi fokus utama melalui penguatan agunan dan dana jaminan. Total nilai agunan yang dikelola KPEI per 19 Desember 2025 mencapai Rp51,38 triliun, dengan dana jaminan Rp9,72 triliun atau meningkat dibandingkan akhir 2024. Keputusan RUPS Tahunan Juni 2025 untuk menambah cadangan jaminan semakin menguatkan buffer risiko, sehingga total cadangan jaminan mencapai Rp206,9 miliar.
Dia menegaskan, sepanjang tahun ini KPEI berhasil menjalankan fungsinya tanpa adanya kejadian gagal bayar oleh Anggota Kliring. Memasuki 2026, KPEI fokus pada pengembangan yang lebih agresif dan terintegrasi. Dukungan terhadap kebijakan regulator dan transaksi bursa akan diperluas melalui pengembangan sistem e-IPO untuk EBUS, produk Electronic Gold Receipt dan penguatan kliring maupun manajemen risiko untuk transaksi lintas batas.
Lebih lanjut Iding mengatakan, KPEI juga menyiapkan pengembangan ICMS untuk pasar ekuitas, PME, exchange derivatives hingga non-centrally cleared derivatives, seiring pembentukan sistem central counterparty untuk transaksi repo. Modernisasi teknologi informasi, konsolidasi data center, otomasi operasional dan penguatan keamanan siber tidak hanya untuk internal KPEI, tetapi juga untuk ketahanan ekosistem Anggota Kliring.
Dengan pijakan kinerja 2025 dan agenda pengembangan yang terstruktur di 2026, KPEI menegaskan posisinya sebagai lembaga CCP yang kredibel, resilien dan adaptif. Langkah ini diharapkan menjadi katalis penguatan likuiditas, efisiensi dan daya saing pasar modal Indonesia, sekaligus memberikan kepastian dan kepercayaan yang semakin kuat bagi investor. (Milva Sary)
