
RollingStock.ID – Sepanjang 2025, PT Bank Permata Tbk (BNLI) membukukan laba bersih Rp3,59 triliun atau hanya mengalami kenaikan tipis 0,6 persen dibandingkan dengan capaian di Tahun Buku 2024 sebesar Rp3,57 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan BNLI untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, emiten di bawah kendali Bangkok Bank Public Company Limited ini mencatatkan pendapatan bunga dan syariah bersih (NII) senilai Rp10,02 triliun alias menurun 2 persen dibandingkan periode yang sama di 2024 mencapai Rp10,22 triliun.
Pada periode Januari-Desember 2025, pendapatan operasional yang dicatatkan Permata Bank sebesar Rp12,56 triliun atau bertumbuh 3,9 persen dibandingkan periode Januari-Desember 2024 sebesar Rp12,08 triliun, lantaran didorong kenaikan pendapatan berbasis komisi dan transaksi.
Dari sisi sisi biaya, BNLI mencatatkan beban operasional di 2025 sebesar Rp7,93 triliun atau membengkak 6 persen (year-on-year), sehingga laba sebelum pajak penghasilan di sepanjang tahun lalu tercatat Rp4,63 triliun atau hanya meningkat 0,5 persen (y-o-y).
Dengan adanya beban pajak penghasilan (neto) di 2025 sebesar Rp1,04 triliun, maka laba bersih bank yang terafiliasi dengan Citigroup Global Markets Limited ini menjadi Rp3,59 triliun atau mengalami kenaikan tipis 0,6 persen (y-o-y).
Per 31 Desember 2025, total liabilitas BNLI tercatat Rp222,49 triliun atau meningkat 2,8 persen (y-o-y), dengan jumlah simpanan nasabah sebesar Rp193,03 triliun atau mengalami kenaikan 3,9 persen dibandingkan per 31 Desember 2024 senilai Rp185,84 triliun.
Hingga akhir Desember 2025, total aset mencapai Rp268,34 triliun alias mengalami kenaikan 3,6 persen (y-o-y), dengan jumlah kredit yang disalurkan (gross) sebesar Rp152,11 triliun atau bertumbuh 5,7 persen dibandingkan posisi di akhir 2024 senilai Rp143,86 triliun.
Sementara itu, jumlah kas Permata Bank per 31 Desember 2025 tercatat Rp1,69 triliun alias meningkat 1,5 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2024 sebesar Rp1,66 triliun. Adapun total ekuitas hingga akhir 2025 mencapai Rp45,85 triliun atau bertumbuh 7,6 persen dibandingkan akhir 2024 sebesar Rp42,6 triliun. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
