
RolligStock.ID – Sepanjang 2025, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) membukukan laba bersih Rp408,55 miliar atau melonjak 76,9 persen dibandingkan dengan capaian di Tahun Buku 2025 yang senilai Rp230,87 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan WIFI untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, emiten teknologi pemilik brand Surge ini mencatatkan pendapatan usaha Rp1,66 triliun atau melambung 147 persen dibandingkan periode yang sama di 2024 sebesar Rp671,85 miliar.
Seiring dengan lonjakan revenue tersebut, beban pokok pendapatan juga ikut membengkak 107,2 persen (year-on-year) menjadi Rp532,76 miliar, sehingga laba bruto di sepanjang 2025 menjadi Rp1,13 triliun alias melejit 171,6 persen dibandingkan sepanjang 2024 senilai Rp414,77 miliar.
Pada periode Januari-Desember 2025, perusahaan milik adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo ini membukukan laba usaha sebesar Rp955,43 miliar atau melesat 177,1 persen (y-o-y). Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan tercatat Rp704,06 miliar atau melonjak 158,5 persen dari Rp272,38 miliar pada periode Januari-Desember 2024.
Dengan adanya beban pajak penghasilan (neto) di 2025 sebesar Rp71,16 miliar, maka laba tahun berjalan WIFI menjadi Rp632,9 miliar atau melambung 176,1 persen (y-o-y). Adapun besaran laba tahun berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk untuk Tahun Buku 2025 sebesar Rp408,55 miliar.
Dari sisi posisi keuangan, jumlah ekuitas Surge tercatat Rp8,52 triliun atau meroket 778,3 persen dibandingkan per 31 Desember 2024 senilai Rp969,84 miliar. Hingga akhir 2025, total liabilitas mencapai Rp6,65 triliun alias membengkak 243,3 persen (y-o-y) yang didominasi kewajban jangka pendek Rp3,98 triliun.
Per 31 Desember 2025, total aset emiten di bawah kendali PT Investasi Sukses Bersama ini mencapai Rp15,17 triliun atau melonjak 421,7 persen (y-o-y), dengan jumlah kas dan setara kas sebesar Rp6,16 triliun atau meroket 33.222,7 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2024 yang hanya Rp18,5 miliar.
Jika mengacu pada cash flow Surge di periode Januari-Desember 2025, lonjakan kas tersebut dipicu arus kas dari aktivitas pendanaan mencapai Rp10,9 triliun yang berasal dari penerbitan obligasi dan sukuk, utang bank, serta rights issue.
Namun pada sisi lain, aktivitas operasi justru mencatatkan arus kas negatif sebesar Rp814,05 miliar dan aktivitas investasi menyerap kas sebesar Rp3,94 triliun, sehingga peningkatan kas lebih ditopang aliran dana dari aktivitas pendanaan dibandingkan dari aktivitas operasional. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
