
RollingStock.ID – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih Rp57,5 triliun di sepanjang 2025 atau bertumbuh 4,9 persen dibandingkan dengan laba bersih di 2024 sebesar Rp54,8 triliun. Pertumbuhan ini didorong peningkatan pendapatan operasional, efisiensi biaya dan terjaganya kualitas aset.
Menurut Presiden Direktur BBCA, Hendra Lembong di Jakarta, Selasa (27/1), pendapatan operasional BCA di sepanjang 2025 meningkat 5,4 persen (year-on-year), lantaran ditopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 4,1 persen (yoy) dan lonjakan pendapatan non-bunga sebesar 16 persen (yoy).
“Kami berterima kasih kepada seluruh nasabah atas kepercayaan dan dukungan yang terus diberikan kepada BCA. Hal ini menjadi motivasi kami untuk terus bertumbuh secara berkelanjutan dan berkontribusi bagi perekonomian Indonesia,” kata Hendra.
Sejalan dengan pertumbuhan laba, BBCA mencatatkan pertumbuhan total kredit sebesar 7,7 persen (yoy) menjadi Rp993 triliun per 31 Desember 2025. Secara rata-rata, pertumbuhan kredit di sepanjang 2025 mencapai 10,8 persen, dengan penyaluran yang terdiversifikasi ke sektor manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah tangga.
Pada sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) bertumbuh 13,1 persen (yoy) menjadi Rp1.045 triliun. Penyaluran kredit usaha meningkat 9,9 persen (yoy) menjadi Rp756,5 triliun per Desember 2025.
Sementara itu, pembiayaan konsumer tercatat Rp224,1 triliun, yang didukung kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar Rp142,3 triliun dan kredit kendaraan bermotor (KKB) sebesar Rp56,6 triliun. Outstanding pinjaman konsumer lainnya, bertumbuh 9,8 persen (yoy) menjadi Rp25,2 triliun.
Rasio loan at risk (LAR) di 2025 membaik menjadi 4,8 persen, dibandingkan 5,3 persen pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah (NPL) terkendali di level 1,7 persen, dengan pencadangan yang memadai, masing-masing 183,8 persen untuk NPL dan 71,6 persen untuk LAR.
Dari sisi transaksi, total dana pihak ketiga (DPK) BBCA bertumbuh 10,2 persen (yoy) menjadi Rp1.249 triliun per 31 Desember 2025. Sepanjang 2025, total frekuensi transaksi meningkat 17 persen (yoy) menjadi 42 miliar transaksi, dengan puncak pemrosesan hampir 300 juta transaksi dalam satu hari. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
