Meski Kinerja Operasi 2025 Melemah, Laba Ancol (PJAA) Naik 1,35% Jadi Rp180,19 Miliar

pjaa
PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Sepanjang 2025, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba bersih Rp180,19 miliar atau meningkat terbatas 1,35 persen dibandingkan setahun sebelumnya Rp177,79 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan PJAA untuk periode berakhir 31 Desember 2025 yang dipublikasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (17/2), emiten BUMD di bawah kendali Pemda Jakarta ini mencatatkan pendapatan Rp1,12 triliun atau melorot 11,43 persen (year-on-year).

Di tengah penurunan omzet tersebut, beban pokok pendapatan justru meningkat 1,74 persen (y-o-y) menjadi Rp609,55 miliar, sehingga laba bruto Jaya Ancol anjlok 23,27 persen (y-o-y) menjadi Rp511,66 miliar.

Pada periode Januari-Desember 2025, laba usaha PJAA tersungkur 12,76 persen (y-o-y) menjadi Rp324,85 miliar, sedangkan laba sebelum pajak terperosok 9,78 persen menjadi Rp224,88 miliar dari Rp249,26 miliar pada periode yang sama di 2024.

Dengan adanya beban pajak penghasilan di 2025 sebesar Rp44,92 miliar, maka laba tahun berjalan yang dicatatkan PJAA menjadi Rp179,96 miliar atau naik 2,09 persen (y-o-y). Adapun besaran laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk di 2025 sebesar Rp180,19 miliar atau meningkat tipis 1,35 persen dibandingkan laba bersih di 2024 senilai Rp177,79 miliar.

Secara keseluruhan, kinerja keuangan PJAA di 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan laba tidak didorong ekspansi bisnis, melainkan lebih banyak ditopang faktor efisiensi dan penurunan beban pajak. Penurunan pendapatan, penyusutan margin bruto dan penurunan return on equity (RoE) mengindikasikan kualitas pertumbuhan laba masih lemah.

Pada sisi balance sheet, per 31 Desember 2025 jumlah ekuitas PJAA mengalami kenaikan 7,28 persen (y-o-y) menjadi Rp1,86 triliun. Hingga akhir 2025, total aset sebesar Rp3,63 triliun atau meningkat 1,17 persen (y-o-y), sedangkan liabilitas tercatat menurun 4,53 persen (y-o-y) menjadi Rp1,77 triliun.

Maka per 31 Desember 2025, debt to equity ratio (DER) PJAA menjadi 1,07 kali dari 0,95 kali per 31 Desember 2024, namun level leverage masih relatif tinggi untuk perusahaan dengan pertumbuhan operasional yang melemah. Current ratio meningkat dari 1,18 kali menjadi 2,22 kali, terutama dikarenakan penurunan liabilitas jangka pendek alias bukan karena ekspansi usaha. (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top