Minyak Terkatrol Gejolak Iran & Perang Ukraina, Pasar Diapit Risiko Pasokan dan Stok Berlebih

iran

RollingStock.ID – Harga minyak dunia melonjak di penghujung pekan, seiring pasar global kembali dibayangi risiko geopolitik dari dua arah sekaligus, peningkatan keresahan di Iran dan eskalasi konflik Rusia-Ukraina. Kenaikan ini terjadi setelah dua hari pelemahan, menandakan sentimen pasar yang cepat berbalik ketika ancaman terhadap pasokan kembali mencuat.

Berdasarkan laporan Reuters, pada perdagangan Jumat (9/1), kontrak berjangka Brent ditutup meningkat USD1,35 atau 2,18 persen ke level US$63,34 per barel. Minyak mentah WTI Amerika Serikat juga menguat USD1,36 atau 2,35 persen menjadi USD59,12 per barel. Sehari sebelumnya, kedua acuan tersebut sudah melonjak lebih dari 3 persen, sedangkan secara mingguan Brent mencatatkan kenaikan sekitar 4 persen dan WTI menigkat 3 persen.

Ketegangan di Iran menjadi salah satu pemicu utama reli harga minyak. Aksi protes yang semakin meluas memunculkan kekhawatiran terhadap terganggunya produksi minyak dari negara produsen utama di Timur Tengah. “Pemberontakan di Iran membuat pasar tetap tegang,” ujar analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.

Pernyataan senada disampaikan Kepala Analisis Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen yang mengatakan: “Protes di Iran tampaknya semakin menguat, sehingga memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan”.

Situasi di dalam negeri Iran dilaporkan memburuk setelah pemadaman internet secara nasional yang terjadi pada Kamis (8/1). Hal dikarenakan berlanjutnya protes terkait kesulitan ekonomi di Teheran, Mashhad, Isfahan dan sejumlah wilayah lain di Iran.

Kekhawatiran pasar semakin diperkuat data produksi OPEC yang tercatat memompa 28,40 juta barel per hari pada bulan lalu atau menurun 100.000 barel per hari dari November 2025 yang telah direvisi, dengan penurunan terbesar berasal dari Iran dan Venezuela.

Dari Eropa Timur, risiko pasokan juga datang dari eskalasi perang Rusia-Ukraina. Militer Rusia menyatakan telah meluncurkan rudal hipersonik Oreshnik ke target-target di Ukraina, termasuk infrastruktur energi yang mendukung kompleks industri militer Ukraina. Pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia ini menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Namun, reli harga minyak belum sepenuhnya lepas dari tekanan. Persediaan minyak global yang terus meningkat dan kondisi pasokan berlebih masih menjadi penahan kenaikan lanjutan. Haitong Futures menilai, kecuali risiko di Iran meningkat lebih jauh, kenaikan harga minyak cenderung terbatas dan sulit dipertahankan.

Pada sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada Washington. Gedung Putih dijadwalkan bertemu dengan perusahaan minyak untuk membahas kesepakatan ekspor Venezuela. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menuntut akses penuh AS ke sektor minyak Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Pemerintahan Trump menyatakan akan mengendalikan penjualan dan pendapatan minyak Venezuela untuk jangka waktu yang belum ditentukan.

Sejumlah perusahaan energi global, seperti Chevron dan rumah dagang Vitol maupun Trafigura, bersaing mendapatkan kesepakatan dengan pemerintah AS untuk memasarkan hingga 50 juta barel minyak yang ditimbun perusahaan minyak Venezuela. “Pasar akan fokus pada hasilnya dalam beberapa hari ke depan terkait bagaimana minyak Venezuela yang tersimpan akan dijual dan dikirimkan,” kata ahli strategi pasar Moomoo ANZ, Tina Teng.

Sinyal produksi AS juga menunjukkan perlambatan, tercermin dari jumlah rig minyak dan gas yang menurun dua unit menjadi 544 unit pada pekan ini. Kondisi ini menjadi level terendah sejak pertengahan Desember 2025, berdasarkan laporan Baker Hughes. Data ini menjadi indikator awal bahwa pertumbuhan produksi di masa depan berpotensi melambat, meski untuk saat ini pasar masih menimbang antara risiko geopolitik dan bayang-bayang pasokan berlebih. (*)

Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top