Outstanding Sukuk ESG Global Menuju USD70 Miliar, RI Jadi Penggerak dari Emerging Market

sukuk
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Fitch Ratings memperkirakan, nilai outstanding surat utang syariah (sukuk) berbasis lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) global bisa menembus USD70 miliar pada akhir 2026. Indonesia menjadi salah satu negara emerging markets yang berperan langsung dalam pencapaian angka tersebut.

Menurut Managing Director-Global Head of Islamic Finance Fitch Ratings, Bashar Al Natoor dalam laporan non-rating yang dikirim melalui surat elektronik, Kamis (15/1), kontribusi Indonesia mencapai sekitar 9 persen dari total penerbitan sukuk ESG global pada 2025, seiring peningkatan kebutuhan pembiayaan berkelanjutan dan minat investor terhadap instrumen syariah.

Bashar menyebutkan, outstanding sukuk ESG global telah mencapai USD58 miliar pada akhir 2025 atau melonjak 30 persen dibandingkan akhir 2024. Pertumbuhan ini terutama didorong negara-negara emerging markets, dengan sukuk ESG menyumbang 40 persen dari total penerbitan utang ESG pada 2025 atau bertumbuh 18 persen (year-on-year).

Lebih lanjut Bashar menyampaikan, tren kenaikan outstanding tersebut membuka ruang lebih besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di pasar global. “Dengan outstanding sukuk ESG global yang diproyeksikan melampaui USD70 miliar, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan perannya melalui penerbitan sukuk yang selaras dengan prinsip keberlanjutan dan standar internasional,” ujarnya.

Pada 2025, penerbitan sukuk ESG global meningkat lebih dari 60 persen menjadi USD18,5 miliar. Arab Saudi memimpin dengan pangsa sebesar 33 persen, Malaysia sebesar 28 persen, Uni Emirat Arab 19 persen dan Indonesia sebesar 9%. Mayoritas sukuk ESG tersebut diterbitkan dalam denominasi dolar AS, yang dinilai membantu memperluas basis investor internasional.

Fitch juga menilai, kualitas peringkat sukuk ESG tetap kuat, dengan 92 persen dari sukuk yang diperingkat berada pada kategori investment grade, seluruh penerbit memiliki outlook stabil dan tidak ada catatan gagal bayar. Menurut Bashar, kondisi ini memperkuat daya tarik sukuk ESG Indonesia di tengah volatilitas global. “Profil kredit yang solid menjadi faktor penting bagi investor dan hal ini mendukung keberlanjutan pertumbuhan sukuk ESG, termasuk dari Indonesia”.

Ke depan, Fitch memperkirakan momentum pertumbuhan sukuk ESG akan berlanjut hingga 2026, didorong mandat keberlanjutan, target net-zero dan pengembangan kerangka regulasi baru di berbagai negara. Bagi Indonesia, tren ini dinilai strategis untuk memperluas pembiayaan hijau dan sosial melalui instrumen syariah, sekaligus berkontribusi pada peningkatan outstanding sukuk ESG global. (*)

Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top