Pasar Cemaskan Deadlock Dialog AS-Iran, Harga Minyak Melesat

minyak2
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga minyak dunia melonjak hingga 3 persen, setelah muncul kekhawatiran bahwa rencana perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan Jumat pekan ini berpotensi gagal. Kondisi ini sekaligus memicu kembali premi risiko geopolitik di pasar energi global.

Berdasarkan laporan Reuters dari New York, Rabu (4/2) atau Kamis (5/2) pagi WIB, harga minyak mentah berjangka Brent sebagai patokan internasional ditutup melambung USD2,13 atau sebesar 3,16 persen ke level USD69,46 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) terpantau menguat USD1,93 atau sebesar 3,05 persen menjadi USD65,14 per barel.

Sentimen pasar menguat setelah laporan media Axios menyebutkan bahwa AS menolak permintaan Iran untuk mengubah lokasi perundingan yang direncanakan pada Jumat, informasi ini dikutip dari dua pejabat Amerika.

Sepanjang pekan ini, pergerakan harga minyak cenderung berfluktuasi, akibat tarik-menarik antara harapan meredanya ketegangan AS-Iran dan kekhawatiran peningkatan risiko gangguan pasokan, khususnya Selat Hormuz.

Kekhawatiran tersebut juga diperkuat peningkatan tensi militer, setelah militer AS dilaporkan menembak jatuh drone Iran yang dinilai bergerak agresif mendekati kapal induk AS di Laut Arab. Selain itu, laporan terpisah mengenai kapal-kapal cepat Iran yang mendekati kapal tanker berbendera AS di utara Oman.

Analis menilai, eskalasi di kawasan tersebut akan berdampak signifikan, mengingat sebesar 20 persen pasokan minyak cair global melewati Selat Hormuz, jalur utama ekspor minyak negara-negara OPEC, seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak.

Pada sisi lain, faktor fundamental juga memberi warna pada pasar, mulai dari penurunan impor minyak Rusia dari India di sepanjang Januari 2026 hingga menyusutnya stok minyak mentah AS akibat badai musim dingin.

Data Reuters menunjukkan, persediaan minyak mentah AS menurun 3,5 juta barel menjadi 420,3 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi analis. Namun, dampak positifnya dinilai terbatas karena tidak sebesar penurunan yang sebelumnya diperkirakan American Petroleum Institute. (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top