Presiden Maduro Diculik, Aksi AS Bakal Tekan Harga Minyak dan Guncang Pasar Global

maduro

RollingStock.ID – Harga minyak global diperkirakan tetap berfluktuasi menyusul operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Presiden AS, Donald Trump tidak mengakui Maduro sebagai pemimpin yang terpilih secara sah, seperti ditegaskan pulak oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio pada 27 Juli 2025 silam.

Menurut Head of Research PT NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama di Jakarta, Minggu (4/1), ketegangan antara AS dan Venezuela meningkat sejak 2025, seiring kebijakan pemerintahan Trump yang mengklasifikasikan organisasi kriminal narkotika sebagai foreign terrorist organizations.

Dalam konteks geopolitik global yang memanas, termasuk kebuntuan negosiasi Rusia-Ukraina dan peningkatan aktivitas militer China di sekitar Taiwan, langkah AS di Venezuela dinilai Ezaridho sebagai upaya menunjukkan kekuatan militer sekaligus peringatan bagi negara lain yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan Washington.

Bahkan, sejumlah pengamat membandingkan operasi ini dengan invasi AS ke Grenada pada 1983 yang berlangsung singkat, meski ada pula yang melihat potensi skenario jangka panjang seperti di Irak pasca 2003. Perbedaan utama terletak pada fokus ekonomi, terutama penguasaan sumber daya energi.

Sebelumnya, Trump mengumumkan bahwa sejumlah perusahaan minyak AS akan mengambil alih pengelolaan fasilitas produksi minyak Venezuela, meski hingga kini belum ada penunjukan resmi terkait aset yang akan dikelola oleh masing-masing perusahaan.

Ezaridho mengungkapkan, langkah tersebut berpotensi memperkuat posisi AS sebagai pemain dominan di pasar minyak global dan meningkatkan tekanan persaingan terhadap OPEC+. Dengan cadangan minyak Venezuela mencapai 303 miliar barel atau terbesar di dunia, serta rencana revitalisasi ladang minyak yang dinilai tidak dikelola secara optimal, maka pasokan minyak global akan meningkat.

Data menunjukkan produksi minyak mentah AS sudah mengalami kenaikan 6 persen di periode Januari-Oktober 2025 menjadi 13,87 juta barel per hari, bahkan diproyeksikan bisa mencapai 14 juta barel per hari pada 2027.

Ezaridho menegaskan, perkembangan ini akan berdampak langsung pada harga minyak dan pasar keuangan global. “Dengan AS mengambil kendali pemerintahan Venezuela dan menempatkan sumber daya minyaknya di bawah pengelolaan perusahaan AS, kami melihat sanksi yang selama ini membatasi arus minyak Venezuela berpotensi dilonggarkan dalam beberapa pekan ke depan,” paparnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, peningkatan pasokan tersebut dapat mendorong harga Brent Crude melanjutkan tren penurunan ke kisaran USD45-50 per barel. Ezaridho menambahkan, meskipun pelonggaran sanksi dapat mengurangi hambatan logistik, namun perubahan rute pengiriman minyak kemungkinan masih bertahan karena pertimbangan keamanan di kawasan Karibia.

Menurut Ezaridho, kondisi tersebut dinilai masih dapat menopang kinerja sektor logistik minyak dan gas dalam jangka pendek. Pada sisi lain, penurunan harga minyak berpotensi menguntungkan konsumen dan industri domestik AS, sekaligus memperkuat indeks dolar AS.

“Penguatan dolar AS berisiko menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang bisa menghadapi tekanan tambahan pada awal 2026,” kata Ezaridho sembari menyebutkan bahwa langkah agresif Trump yang berkoordinasi dengan sektor swasta Amerika dalam mengamankan sumber daya energi global berpotensi mengubah peta kekuatan pasar minyak dunia dalam beberapa tahun ke depan.

Penulis: Syafril JA Surya

Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top