Profit Taking Hantam Logam Mulia, Emas Hingga Platinum Anjlok Usai Cetak Rekor

logam mulia

RollingStock.ID – Investor global melakukan aksi ambil untung besar-besaran di pasar logam mulia pada awal pekan ini, bahkan perak, platinum dan paladium terkoreksi tajam usai reli kuat yang sempat membawa sejumlah komoditas itu melonjak ke level tertinggi baru.

Tekanan jual tersebut muncul menyusul lonjakan harga signifikan dalam beberapa waktu terakhir yang memicu realisasi keuntungan. Harga emas spot anjlok 4,5 persen ke level USD4.330,79 per ons pada pukul 01.51 WIB, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi USD4.549,71 per ons pada Jumat pekan lalu.

Berdasarkan laporan Reuters dari Bengaluru, Senin (29/12) atau Selasa (30/12) dini hari WIB, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari juga melemah 4,6 persen dan ditutup pada posisi USD4.343,60 per ons.

Tekanan paling besar terjadi pada platinum yang ambles 14,5 persen ke posisi USD2.096,53 per ons, setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi USD2.478,50 di awal perdagangan. Perak ikut terkoreksi tajam hingga 9,5 persen ke USD71,66 per ons atau menjauh dari rekor USD83,62. Paladium spot ikut tertekan dengan penurunan 15,9 persen ke posisi USD1.617,47 per ons.

Direktur High Ridge Futures, David Meger mengungkapkan, seluruh logam mulia sebelumnya melonjak ke level tertinggi baru, bahkan tertinggi sepanjang masa. Dia menilai koreksi yang terjadi mencerminkan aksi ambil untung yang wajar, setelah kenaikan harga sangat tajam dalam waktu singkat.

Sepanjang 2025, emas mencatatkan kinerja impresif dengan kenaikan 65 persen. Platinum dan paladium juga berada di jalur mencetak kinerja tahunan yang positif, namun perak tampil paling menonjol dengan lonjakan 147 persen. Lonjakan ini didorong statusnya sebagai mineral kritis, keterbatasan pasokan global dan peningkatan permintaan dari sektor industri dan investor.

Meger menegaskan fundamental pasar perak tetap kuat, namun kendala pasokan struktural masih menjadi faktor utama yang menopang harga perak, dengan prospek yang tetap positif menjelang 2026.

Dari sisi geopolitik, ketegangan kembali meningkat setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bahwa Moskow akan meninjau ulang posisinya dalam perundingan damai, menyusul klaim Rusia terkait serangan drone Ukraina terhadap sebuah kediaman presiden Rusia.

Situasi geopolitik seperti itu umumnya mendukung emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global. Namun, analis TD Securities, Daniel Ghali menilai, tekanan harga logam mulia kali ini juga dipicu oleh keterbatasan likuiditas di pasar. Dia menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan tenggat waktu Presiden AS untuk menyampaikan rekomendasi terkait investigasi mineral kritis, serta menurunnya volume perdagangan akibat periode libur akhir tahun. (Reuters/Satya Darmawan)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top