
RollingStock.ID – Pasar saham Asia bergerak terbatas pada perdagangan terakhir di 2025, Rabu (31/12), namun tetap menutup tahun lalu dengan kinerja mencolok, akibat terkatrol reli masif pada sejumlah saham chip kecerdasan buatan (AI) yang membuat investor mengabaikan berbagai ketidakpastian global.
Berdasarkan laporan Reuters, di tengah volume transaksi yang menipis menjelang libur Tahun Baru 2026, fokus pelaku pasar tertuju pada sektor teknologi, logam mulia dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang tercatat menurun 0,17 persen pada Rabu, seiring sikap investor yang sedang mencermati risalah rapat The Fed di Desember 2025. Risalah ini memperlihatkan perbedaan pandangan tajam antar-pembuat kebijakan terkait arah suku bunga.
Meski demikian, indeks tersebut berada di jalur mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 27%, lonjakan tertajam sejak 2017, terutama berkat reli kuat saham-saham pembuat chip di tengah ledakan investasi bertema AI.
Kinerja solid juga terlihat di pasar China, dengan indeks CSI300 menguat tipis dan menutup tahun dengan kenaikan sebesar 18 persen. Di Hong Kong, indeks Hang Seng melemah 0,7 persen pada perdagangan terakhir, namun tetap membukukan lonjakan secara tahunan sebesar 28 persen.
Korea Selatan bahkan tampil sebagai bintang utama, dengan indeks Kospi melonjak 76 persen di sepanjang 2025, sehingga menjadikannya sebagai pasar saham utama dengan kinerja terbaik di dunia, ditopang lonjakan harga saham raksasa chip SK Hynix dan Samsung.
Untuk pasar komoditas, logam mulia menjadi sorotan menjelang akhir 2025. Harga perak mencatat reli spektakuler dengan kenaikan tahunan melampaui 160 persen, meskipun menurun 1 persen pada Rabu akibat aksi ambil untung. Emas menguat tipis dan berada di jalur kenaikan sebesar 66 persen di sepanjang 2025, sehingga memperpanjang reli tiga tahunnya.
Sementara itu, pasar Jepang ditutup hingga akhir pekan dan sebagian besar bursa Asia libur pada Kamis, maka pergerakan harga tetap terbatas. Di pasar global, investor menilai 2025 sebagai tahun yang luar biasa bagi imbal hasil investasi, meskipun diwarnai berbagai guncangan.
Sepanjang tahun lalu, pasar berhasil melewati tekanan perang tarif, penutupan pemerintahan AS terpanjang dalam sejarah, ketegangan geopolitik hingga kekhawatiran terhadap independensi bank sentral. Dorongan utama datang dari kombinasi ledakan adopsi AI dan kebijakan moneter dan fiskal yang relatif akomodatif.
Memasuki 2026, perhatian investor tetap pada tema AI sebagai jangkar utama di pasar, namun dinilai memasuki fase baru yang lebih menekankan adopsi nyata dan selektivitas terhadap imbal hasil. Risiko utama yang mengintai adalah potensi pembalikan tajam akibat posisi pasar yang terlalu padat di saham AI maupun logam mulia, serta optimisme berlebihan terhadap jalur penurunan suku bunga.
Fokus investor tahun depan juga akan tertuju pada langkah The Fed, setelah bank sentral AS ini memproyeksikan hanya satu kali pemangkasan suku bunga. Sementara itu, pasar masih memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan tambahan.
Risalah rapat The Fed pada Desember 2025 menegaskan tantangan menjaga keseimbangan antara stabilitas inflasi dan pasar tenaga kerja, terutama di tengah perlambatan penciptaan lapangan kerja baru.
Pada pasar obligasi, perdagangan tunai obligasi pemerintah AS terhenti akibat libur di Jepang, dengan imbal hasil tenor 10 tahun berada di level 4,13 persen, setelah menurun 45 basis poin di sepanjang 2025. Di pasar valuta asing, dolar AS bergerak stabil pada perdagangan terakhir, namun mencatatkan penurunan tahunan sebesar 9,4 peren, penurunan terdalam sejak 2017.
Harga minyak menutup tahun lalu dengan tekanan berat, yakni menurun lebih dari 10 persen di sepanjang 2025. Minyak Brent menuju rentang kerugian tahunan terpanjang dalam sejarah, seiring pasokan global melampaui permintaan di tengah konflik berkepanjangan, tarif yang lebih tinggi, serta produksi OPEC+ dan sanksi terhadap Rusia, Iran dan Venezuela. (Milva Sary)
Reli Saham AI dan Logam Mulia Menutup Penguatan Bursa Asia di 2025
RollingStock.ID – Pasar saham Asia bergerak terbatas pada perdagangan terakhir di 2025, Rabu (31/12), namun tetap menutup tahun lalu dengan kinerja mencolok, akibat terkatrol reli masif pada sejumlah saham chip kecerdasan buatan (AI) yang membuat investor mengabaikan berbagai ketidakpastian global.
Berdasarkan laporan Reuters, di tengah volume transaksi yang menipis menjelang libur Tahun Baru 2026, fokus pelaku pasar tertuju pada sektor teknologi, logam mulia dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang tercatat menurun 0,17 persen pada Rabu, seiring sikap investor yang sedang mencermati risalah rapat The Fed di Desember 2025. Risalah ini memperlihatkan perbedaan pandangan tajam antar-pembuat kebijakan terkait arah suku bunga.
Meski demikian, indeks tersebut berada di jalur mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 27%, lonjakan tertajam sejak 2017, terutama berkat reli kuat saham-saham pembuat chip di tengah ledakan investasi bertema AI.
Kinerja solid juga terlihat di pasar China, dengan indeks CSI300 menguat tipis dan menutup tahun dengan kenaikan sebesar 18 persen. Di Hong Kong, indeks Hang Seng melemah 0,7 persen pada perdagangan terakhir, namun tetap membukukan lonjakan secara tahunan sebesar 28 persen.
Korea Selatan bahkan tampil sebagai bintang utama, dengan indeks Kospi melonjak 76 peren di sepanjang 2025, sehingga menjadikannya sebagai pasar saham utama dengan kinerja terbaik di dunia, ditopang lonjakan harga saham raksasa chip SK Hynix dan Samsung.
Untuk pasar komoditas, logam mulia menjadi sorotan menjelang akhir 2025. Harga perak mencatat reli spektakuler dengan kenaikan tahunan melampaui 160 persen, meskipun menurun 1 persen pada Rabu akibat aksi ambil untung. Emas menguat tipis dan berada di jalur kenaikan sebesar 66 persen di sepanjang 2025, sehingga memperpanjang reli tiga tahunnya.
Sementara itu, pasar Jepang ditutup hingga akhir pekan dan sebagian besar bursa Asia libur pada Kamis, maka pergerakan harga tetap terbatas. Di pasar global, investor menilai 2025 sebagai tahun yang luar biasa bagi imbal hasil investasi, meskipun diwarnai berbagai guncangan.
Sepanjang tahun lalu, pasar berhasil melewati tekanan perang tarif, penutupan pemerintahan AS terpanjang dalam sejarah, ketegangan geopolitik hingga kekhawatiran terhadap independensi bank sentral. Dorongan utama datang dari kombinasi ledakan adopsi AI dan kebijakan moneter dan fiskal yang relatif akomodatif.
Memasuki 2026, perhatian investor tetap pada tema AI sebagai jangkar utama di pasar, namun dinilai memasuki fase baru yang lebih menekankan adopsi nyata dan selektivitas terhadap imbal hasil. Risiko utama yang mengintai adalah potensi pembalikan tajam akibat posisi pasar yang terlalu padat di saham AI maupun logam mulia, serta optimisme berlebihan terhadap jalur penurunan suku bunga.
Fokus investor tahun depan juga akan tertuju pada langkah The Fed, setelah bank sentral AS ini memproyeksikan hanya satu kali pemangkasan suku bunga. Sementara itu, pasar masih memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan tambahan.
Risalah rapat The Fed pada Desember 2025 menegaskan tantangan menjaga keseimbangan antara stabilitas inflasi dan pasar tenaga kerja, terutama di tengah perlambatan penciptaan lapangan kerja baru.
Pada pasar obligasi, perdagangan tunai obligasi pemerintah AS terhenti akibat libur di Jepang, dengan imbal hasil tenor 10 tahun berada di level 4,13 persen, setelah menurun 45 basis poin di sepanjang 2025. Di pasar valuta asing, dolar AS bergerak stabil pada perdagangan terakhir, namun mencatatkan penurunan tahunan sebesar 9,4 peren, penurunan terdalam sejak 2017.
Harga minyak menutup tahun lalu dengan tekanan berat, yakni menurun lebih dari 10 persen di sepanjang 2025. Minyak Brent menuju rentang kerugian tahunan terpanjang dalam sejarah, seiring pasokan global melampaui permintaan di tengah konflik berkepanjangan, tarif yang lebih tinggi, serta produksi OPEC+ dan sanksi terhadap Rusia, Iran dan Venezuela. (Milva Sary)
