
RollingStock.ID – Bursa saham emerging markets bergerak menuju level tertinggi dalam lima tahun terakhir, lantaran terkatrol reli berkelanjutan saham teknologi Asia yang semakin menarik minat investor global.
Berdasarkan laporan Blomberg, Senin (5/1), hari ini Indeks MSCI Emerging Markets melonjak hingga 1,3 persen dan terpantau berada di jalur untuk menembus puncak historis, seiring dengan meluasnya optimisme terhadap tema kecerdasan buatan (AI).
Sejumlah saham teknologi mencatatkan penguatan signifikan, seperti Hanmi Semiconductor Co dan Kuaishou Technology masing-masing melesat lebih dari 10 persen. Kondisi ini mencerminkan derasnya aliran dana ke emiten yang terlibat langsung ke dalam rantai pasok AI.
Indeks acuan di Korea Selatan dan Taiwan, bersama indeks regional Asia Pasifik juga bergerak mendekati rekor tertinggi baru. Penguatan ini menegaskan posisi Asia sebagai pusat pertumbuhan AI global, terutama karena banyak perusahaan di kawasan ini yang menjadi pemasok komponen penting bagi industri teknologi dunia.
Sejak awal 2025, aset emerging markets mencatatkan kinerja solid dengan ekspektasi reli masih bisa berlanjut hingga 2026. Prospek pelemahan ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi menekan dolar AS dipandang sebagai faktor pendukung aliran modal ke pasar negara berkembang.
Namun, euforia tersebut tidak datang tanpa risiko, karena kenaikan harga saham yang agresif mulai memicu kekhawatiran mengenai valuasi, khususnya pada emiten teknologi dan AI berkapitalisasi besar yang pergerakannya semakin fluktuatif.
“Dalam jangka pendek, pasar negara berkembang masih bisa tetap ditopang, tetapi pergerakannya cenderung selektif dan lebih bergejolak, bukan reli yang mulus,” ujar Kepala Strategi Investasi Saxo Markets, Charu Chanana.
Kendati demikian, Chanana menilai bahwa sentimen positif masih terbuka. “Momentum teknologi Asia dan kekuatan rantai pasok AI berpotensi terus mendorong indeks lebih tinggi, selama selera risiko global tetap terjaga,” ujar Chanana seperti dikutip Bloomberg.
Saat ini pelaku pasar menantikan katalis lanjutan, terutama rilis data ekonomi AS dan laporan kinerja keuangan perusahaan besar. Pada sisi lain, kekhawatiran terhadap ketidakpastian arah pemangkasan suku bunga acuan The Fed dan peningkatan kembali tensi geopolitik global bisa membuat investor lebih berhati-hati untuk menambah eksposur risiko. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
