
RollingStock.ID – Setelah melesat hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, laju harga emas akhirnya terhanti di pucak. Harga emas terkoreksi seiring dengan keputusan investor yang mulai mengamankan keuntungan, sedangkan meredanya ketegangan geopolitik perlahan mengikis daya tarik logam mulia sebagai aset safe haven.
Berdasarkan laporan Reuters, harga emas spot tercatat turun 0,5 persen ke level USD4.592,29 per ons pada Jumat (16/1) pukul 13.39 waktu setempat di AS, setelah sempat menyentuh titik terendah sesi di USD4.536,49. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari 2026 ditutup melemah 0,6 persen ke USD4.595,40 per ons. Meski melemah secara harian, namun emas tetap berada di jalur kenaikan mingguan sebesar 1,9 persen untuk pekan kedua berturut-turut, setelah Rabu lalu meraih rekor tertinggi di USD4.642,72 per ons.
Menurut analis Marex, Edward Meir, koreksi tersebut lebih disebabkan faktor teknikal dan sentimen jangka pendek. “Ini merupakan pelemahan umum di komoditas setelah beberapa pekan mencatatkan kenaikan agresif, disertai aksi ambil untung. De-eskalasi ketegangan di Timur Tengah juga menghapus sebagian premi geopolitik pada emas dan logam lainnya, khususnya perak,” ujar Meir.
Tekanan terhadap emas muncul di tengah indikasi meredanya risiko geopolitik. Aksi protes di Iran dilaporkan menurun, sedangkan Presiden AS, Donald Trump memilih pendekatan wait and see. Di saat yang sama, Presiden Rusia, Vladimir Putin disebut-sebut bergerak untuk memediasi situasi di Iran guna menurunkan eskalasi.
Pada sisi perdagangan global, AS dan Taiwan mencapai kesepakatan pada Kamis (15/1) yang menurunkan tarif atas sejumlah besar ekspor semikonduktor Taiwan dan sekaligus mendorong masuknya investasi baru ke sektor teknologi AS. Langkah ini dinilai berpotensi memicu ketegangan baru dengan China, namun untuk sementara justru memperbaiki sentimen risiko di pasar.
Pada sisi lain, pelaku pasar tetap mencermati arah kebijakan moneter AS. The Fed diperkirakan bakal mempertahankan suku bunga hingga paruh pertama tahun ini. Pemangkasan pertama sebesar 25 basis poin bakal terjadi pada Juni 2026, berdasarkan data yang dikompilasi LSEG. Untuk kondisi normal, emas cenderung diuntungkan dari ketidakpastian ekonomi dan kondisi suku bunga rendah.
Meski koreksi terjadi, prospek jangka menengah emas dinilai masih positif. “Saya masih melihat peluang emas mencapai USD5.000 tahun ini, meskipun kemungkinan akan diselingi koreksi-koreksi besar,” ungkap Meir.
Tekanan jual juga menjalar ke logam mulia lainnya, seperti harga perak spot anjlok 2,9 persen ke USD89,65 per ons, walaupun secara mingguan tetap berpeluang melonjak lebih dari 12 persen setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di posisi USD93,57 pada sesi sebelumnya. Dalam catatan terpisah, JP Morgan menyebutkan, kombinasi risiko pelonggaran pasokan di luar AS, arus keluar ETF, pelemahan permintaan industri dan pengetatan pembatasan perdagangan di China membuat harga perak rentan mengalami koreksi tajam.
Sementara itu, berdasarkan laporan Reuters, harga platinum spot mengalami penurunan 3,3 persen ke level USD2.330,67 per ons, tetapi tetap mengarah menuju kenaikan mingguan, sedangkan palladium melemah 0,6 persen ke posisi USD1.790,78 per ons. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
