Serangan Balasan Iran Guncang Pasar, Harga Minyak Melambung 13%

selat hormuz
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga minyak dunia melambung 13% pada perdagangan hari ini, setelah pengiriman di Selat Hormuz terganggu akibat serangan balasan Iran. Aksi ini menyusul pemboman awal yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Eskalasi konflik tersebut memicu lonjakan premi risiko geopolitik di pasar energi global.

Berdasarkan laporan Reuters dan Bloomberg di Singapura, Senin (2/3), minyak mentah berjangka Brent sempat melesat ke USD82,37 per barel pada awal sesi, yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2025, sebelum diperdagangkan di USD79,76 per barel atau melanjak 9,46 persen.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) menyentuh level USD75,33 per barel alias melesat lebih dari 12 persen, sebelum sempat bertumbuh melambat ke USD73,05 per barel atau melompat hingga 9 persen.

Gangguan terjadi setelah serangan saling balas merusak sejumlah kapal tanker dan memaksa lebih dari 200 kapal, termasuk pengangkut minyak dan LNG, berlabuh di luar Selat Hormuz. Tiga kapal tanker dilaporkan rusak dan satu pelaut tewas di selat yang terletak di antara Iran dan Oman ini.

Pelaku pasar menilai, situasi ini sebagai guncangan geopolitik serius, namun belum berkembang menjadi krisis sistemik. Kendati demikian, penutupan berkepanjangan Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga lanjutan dan kekurangan pasokan bagi importir utama, seperti China dan India. Sejumlah negara Asia, termasuk Korea Selatan dan India mulai menyiapkan langkah antisipatif untuk mengamankan cadangan dan jalur distribusi alternatif.

Pada sisi pasokan, OPEC+ sepakat meningkatkan produksi sebanyak 206.000 barel per hari mulai April tahun ini, namun analis beranggapan bahwa ruang kenaikan output terbatas, karena sebagian besar produsen telah beroperasi mendekati kapasitas maksimal. Badan Energi Internasional menyatakan, pihaknya siap mengoordinasikan pelepasan cadangan strategis jika diperlukan untuk menstabilkan pasar.

Secara fundamental, stok minyak global tercatat sebanyak 7,827 juta barel atau setara 74 hari permintaan, mendekati median historis. Sejumlah lembaga keuangan memperkirakan, harga Brent berpotensi bertahan di rentang USD80-USD90 per barel selama konflik berlangsung. Sementara itu, harga bensin AS diperkirakan menembus USD3 per galon, sehingga menambah tekanan ekonomi domestik menjelang pemilu tengah tahun. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top