
RollingStock.ID – PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) menempatkan ekspor sebagai pilar utama strategi pertumbuhan kinerja keuangan di tengah tantangan daya beli dan perlambatan konsumsi di pasar domestik. Pasar internasional dinilai tetap menawarkan ruang ekspansi yang lebih luas, sehingga perseroan menargetkan peningkatan pendapatan dan laba bersih di 2026.
Menurut Direktur Utama STRK, Bona Budhisurya, langkah tersebut mencerminkan fokus STRK dalam membaca dinamika pasar di saat kondisi domestik belum sepenuhnya pulih, sehingga strategi diversifikasi geografis dianggap sebagai upaya yang semakin relevan.
Dia menyebutkan, ekspor bukan sekadar pelengkap, melainkan sumber pertumbuhan utama yang ingin diperkuat STRK. “Fokus kami adalah memperluas kontribusi ekspor. Pasar internasional memberikan peluang yang lebih luas dibandingkan pasar lokal saat ini,” ujar Bona dalam siaran pers yang dilansir di Jakarta, Kamis (/1).
Guna mendukung agenda tersebut, STRK memperkenalkan tiga produk yang dirancang sesuai selera pasar global, yakni COCO BALI di segmen ready to drink (RTD), serta CLARISSA dan LIBARRON di segmen minuman beralkohol premium. Jepang dan China menjadi target awal, seiring penjajakan masuk ke pasar Eropa dan Amerika Serikat.
Lebih lanjut Bona menyampaikan, pelemahan konsumsi dalam negeri menjadi katalis percepatan ekspansi ini. “Ketika pasar lokal melambat, perusahaan perlu mencari sumber pertumbuhan lain. Pasar ekspor menjadi salah satu opsi yang realistis, ungkapnya.
Keseriusan STRK terlihat dari penandatanganan Letter of Intent dengan Naoyoshi Co Ltd, perusahaan logistik dan distribusi asal Jepang, untuk mendukung pemasaran COCO BALI RTD dan produk spirit lainnya. Jepang dipandang sebagai pasar strategis, khususnya untuk kategori RTD yang pertumbuhannya relatif stabil di kawasan Asia Pasifik.
Bona menyebutkan, meskipun pangsa pasar yang dibidik relatif kecil, dampak positifnya terhadap volume produksi dapat menjadi signifikan. Sejalan dengan potensi peningkatan permintaan, STRK juga menyiapkan penguatan kapasitas produksi. Saat ini fasilitas di Singaraja memiliki kapasitas sebanyak 3.000 botol per jam dan direncanakan meningkat bertahap hingga 20.000 botol per jam.
Dalam fase awal, STRK memilih mengoptimalkan tenaga kerja lokal dibandingkan investasi besar pada otomatisasi. “Pendekatan ini memungkinkan kami meningkatkan kapasitas sambil tetap melibatkan tenaga kerja lokal,” ucap Bona.
COCO BALI diposisikan sebagai ujung tombak STRK di segmen RTD global, dengan keunggulan bahan baku coconut kopyor dan varian sparkling agave dan golden salak. Seluruh bahan utama bersumber dari Bali, termasuk agave dari Nusa Penida, yang sekaligus memperkuat narasi asal-usul produk.
Bona menilai tren global menunjukkan peningkatan minat terhadap minuman dengan kadar gula dan alkohol lebih rendah, terutama di kalangan konsumen muda. Sementara itu, CLARISSA dan LIBARRON diarahkan ke pasar premium, seperti Amerika, Eropa dan Meksiko, wilayah yang dikenal memiliki apresiasi tinggi terhadap produk craft dengan karakter dan cerita asal yang kuat.
Pada tahap awal, STRK memproyeksikan sebesar 60 persen pendapatan berasal dari ekspor dan 40 persen dari pasar domestik, dengan peluang perubahan komposisi seiring terealisasinya kontrak internasional. Selain produk yang telah diluncurkan, perseroan juga tengah menjajaki pengembangan spirit berbasis agave dari bahan baku Bali untuk pasar global. (Satya Darmawan)
