
RollingStock.ID – Sepanjang 2025, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) membukukan laba bersih Rp411,44 miliar pada 2025 atau berbanding terbalik dengan kinerja keuangan di Tahun Buku 2024 yang menderita rugi bersih mencapai Rp1,85 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan IBST untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, emiten di bawah kendali PT Iforte Solusi Infotek (iForte) ini mencatatkan pendapatan Rp871,89 miliar pada 2025 atau meningkat 1,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2024 sebesar Rp862,47 miliar.
Di tengah peningkatan omzet tersebut, IBST terpantau mampu menekan beban pokok pendapatan hingga 51,2 persen (year-on-year) menjadi Rp242,95 miliar. Dengan demikian, laba bruto di sepanjang 2025 menjadi Rp628,95 miliar atau melonjak 72,4 persen (y-o-y).
Pada periode Januari-Desember 2025, IBST membukukan laba usaha sebesar Rp609,96 miliar atau melambung 199 persen (y-o-y). Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan tercatat Rp523,21 miliar atau berbanding terbalik dengan setahun sebelumnya yang mencatatkan rugi sebelum pajak Rp1,79 triliun.
Dengan adanya beban pajak penghasilan di 2025 sebesar Rp37,1 miliar, maka perusahaan menara telekomunikasi yang tergabung di dalam jaringan bisnis Djarum Group ini membukukan laba bersih tahun berjalan Rp411,44 miliar atau berbalik dari rugi bersih di 2024 mencapai Rp1,85 triliun.
Dari sisi neraca, jumlah ekuitas IBST per 31 Desember 2025 tercatat Rp2,58 triliun atau melompat 19 persen dibandingkan per 31 Desember 2024 senilai Rp2,17 triliun. Hingga akhir 2025, total liabilitas sebesar Rp1,37 triliun atau berhasil ditekan 39,3 persen (y-o-y), namun masih didominasi kewajiban jangka pendek Rp972,82 miliar.
Per 31 Desember 2025, total aset perseroan mencapai Rp3,95 triliun atau menurun 10,7 persen (y-o-y), dengan jumlah kas di bank tersisa Rp1,1 miliar alias anjlok 93,9 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2024 sebesar Rp18,14 miliar.
Jika mengacu pada cash flow IBST di periode Januari-Desember 2025, penurunan kas itu terutama dipengaruhi arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan Rp1,07 triliun, khususnya disebabkan pembayaran utang bank jangka pendek yang tercatat Rp7,22 triliun. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
