
RollingStock.ID – Harga emas kehilangan tenaga pada awal pekan di tengah penguatan dolar AS yang kembali menekan minat beli di pasar komoditas global, menandakan bahwa reli tajam pada sesi sebelumnya belum cukup kuat untuk mengubah arah tekanan jangka pendek.
Berdasarkan laporan Reuters dari Bengaluru, Senin (16/2), emas spot menurun 0,4 persen menjadi USD5.020,1 per ons pada pukul 08.11 WIB, setelah sehari sebelumnya melonjak 2,5 persen. Harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman April 2026 juga melemah 0,1 persen ke USD5.039,5 per ons, mencerminkan pelemahan di pasar global bukan cuma pada satu segmen perdagangan.
Tekanan pada harga emas muncul setelah Indeks Dolar AS (DXY) menguat pada awal pekan ini. Penguatan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang dolar AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga mengurangi daya tarik logam mulia di pasar global dan memicu aksi jual.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, Indeks Harga Konsumen meningkat 0,2 persen pada Januari 2026 atau lebih rendah dibandingkan ekspektasi ekonom sebesar 0,3 persen dan berada di bawah kenaikan 0,3 persen pada Desember 2025. Inflasi yang melandai biasanya meningkatkan peluang Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga, tetapi dampak positif ini belum mampu mengimbangi tekanan dari penguatan dolar.
Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar memperkirakan bahwa total pemangkasan suku bunga sebesar 75 basis poin di sepanjang 2026, dengan pemotongan pertama diperkirakan terjadi pada Juli. Kondisi suku bunga rendah pada umumnya menguntungkan emas, karena logam mulia sebagai aset safe haven, meski faktor ini masih dipandang sebagai prospek jangka menengah alias bukan pendorong harga dalam waktu dekat.
Saat ini perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan kebijakan dan geopolitik AS. The Fed dilaporkan akan menunjuk Randall Guynn sebagai direktur baru bidang pengawasan dan regulasi, menempatkan figur berpengalaman dari Wall Street pada posisi strategis dalam pengawasan industri perbankan.
Pada sisi geopolitik, ketegangan meningkat setelah dua pejabat AS menyebut militer AS tengah mempersiapkan kemungkinan operasi berkepanjangan terhadap Iran jika Presiden Donald Trump memerintahkan serangan, sehingga hal ini memicu situasi yang berpotensi memperluas konflik kawasan. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu pun menyatakan telah menyampaikan kepada Trump bahwa setiap kesepakatan dengan Iran harus mencakup pembongkaran infrastruktur nuklir Iran, bukan sekadar penghentian pengayaan uranium.
Untuk pasar logam lainnya, tekanan juga terlihat pada harga perak spot yang menurun 0,6 persen menjadi USD76,92 per ons, setelah sebelumnya melambung 3 persen pada Jumat pekan lalu. Platinum melemah 0,4 persen ke USD2.054,35 per ons, sedangkan paladium menguat tipis 0,4 persen menjadi USD1.692,23 per ons, yang menandakan sentimen di sektor logam mulia secara umum masih cenderung rapuh. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
