
RollingStock.ID – Harga tembaga berjangka di London kembali menguat setelah mengalami penurunan tajam pada sesi sebelumnya, dikarenakan terkatrol aksi beli murah investor di tengah aktivitas pasar yang tipis selama libur Tahun Baru Imlek.
Berdasarkan laporan Reuters, Rabu (18/2), kontrak tembaga di London Metal Exchange (LME) meningkat 0,7 persen menjadi USD12.702 per metrik ton pada pukul 13.33 WIB, setelah pada Selasa sempat melorot 1,8 persen ke level terendah lebih dari sepekan akibat tingginya persediaan dan penguatan dolar AS.
Bursa Shanghai Futures Exchange (SHFE) masih tutup hingga 23 Februari, karena libur Imlek. “Ini musim liburan, jadi permintaan memang tidak terlalu kuat. Hari ini ada pemulihan harga (tembaga) karena aksi beli murah (bargain buying),” kata analis ANZ, Soni Kumari.
Kumari menyebutkan, kendati pasar berpotensi mengalami pelemahan jangka pendek setelah reli sebelumnya, prospek logam dasar dianggap positif karena permintaan musiman belum sepenuhnya berjalan. Pasar juga menunggu seberapa kuat permintaan dari China usai aktivitas kembali normal.
Data LME menunjukkan persediaan tembaga di gudang melonjak 9.775 ton menjadi 221.625 ton pada Selasa kemarin, sekaligus sebagai level tertinggi dalam 11 bulan. “Persediaan tinggi mungkin butuh waktu untuk diserap, mengingat kondisi liburan,” ujar Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer.
Sementara itu, Tim Riset Goldman Sachs memperkirakan, harga tembaga berpotensi mencapai USD11.200 per ton pada Kuartal IV-2026, jika rencana penimbunan strategis oleh Amerika Serikat dan kemungkinan pengurangan stok logam yang dilakukan China bisa terealisasi.
Secara korporasi, perusahaan tambang asal Cile, Antofagasta melaporkan bahwa laba inti tahunan melonjak 52 persen pada Selasa, didorong harga tembaga yang sempat mencapai rekor tertinggi tahun lalu. Manajemen perusahaan menyatakan, peningkatan belanja modal akan menopang produksi dalam jangka menengah.
Untuk logam dasar lainnya, seng tercatat menguat 0,4 persen menjadi USD3.298,5 per ton, setelah sebelumnya menyentuh level terendah dua pekan. Aluminium meningkat 0,5 persen ke USD3.048, sehingga memutus tren penurunan empat sesi beruntun. Timbal naik 0,1 persen menjadi USD1.947, timah menguat 0,4 persen ke USD45.755 dan nikel meningkat 0,4 persen menjadi USD16.925 per ton. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
