
RollingStock.ID – Nilai tukar dolar Amerika Serikat mampu bertahan di jalur penguatan versus mata uang utama, setelah Presiden AS, Donald Trump menarik ancaman penerapan tarif terhadap sejumlah negara Eropa anggota NATO dan mengumumkan adanya kerangka kesepakatan dengan aliansi tersebut terkait pengendalian Greenland.
Berdasarkan laporan Reuters di Tokyo, Kamis (22/1), apresiasi dolar terjadi setelah reli pada sesi sebelumnya, seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik perdagangan dan geopolitik. Sementara itu, dolar Australia melonjak ke level tertinggi dalam 15 bulan, karena terkatrol membaiknya sentimen risiko global dan data ketenagakerjaan domestik yang lebih kuat dari perkiraan.
Euro tercatat stabil di posisi USD1,1688, setelah merosot 0,3 persen pada sesi sebelumnya. Terhadap franc Swiss, dolar AD sedikit melemah jadi 0,7947 franc setelah melonjak 0,7 persen semalam.
Ancaman Trump untuk mengenakan tarif terhadap negara-negara sekutu yang menentang ambisinya atas Greenland sebelumnya, sempat mengguncang pasar dan memicu aksi jual berbagai aset Amerika Serikat. Namun, pernyataannya di Davos pada Rabu kemarin, yang menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer, akhirnya bisa menenangkan pelaku pasar.
Trump menyatakan, AS mencapai kerangka kesepakatan dengan NATO terkait Greenland, meski tidak merinci isi kesepakatan tersebut dalam unggahan di platform Truth Social. Dia menambahkan, sebagai hasilnya, tarif tidak akan diberlakukan. “Pelaku pasar bergerak cepat merespons pembalikan arah yang tajam, dengan mengurangi posisi defensif, menutup sebagian posisi jual dolar AS dan menyeimbangkan eksposur pada emas dan perak,” tulis Kepala Riset Pepperstone, Chris Weston.
Weston menambahkan, secara umum pasar telah menghilangkan risiko ekstrem terjadinya konfrontasi antara AS dan mitra NATO, menyusul pidato Trump di Davos dan pernyataannya di media sosial. Di pasar Asia-Pasifik, dolar Australia yang sensitif terhadap risiko, tercatat menguat 0,7 persen menjadi USD0,68105 atau tertinggi sejak Oktober 2024. Mata uang ini juga melesat hingga 1 persen terhadap yen Jepang ke posisi 108,03 yen atau tertinggi sejak Juli 2024.
Data Australia untuk Desember 2025 menunjukkan tingkat pengangguran menurun ke level terendah dalam tujuh bulan, seiring lonjakan penciptaan lapangan kerja yang lebih dari dua kali lipat perkiraan ekonom. “Laporan ketenagakerjaan yang sangat kuat hari ini secara signifikan meningkatkan peluang kenaikan suku bunga olehh Reserve Bank of Australia pada pertemuan 2-3 Februari,” ujar analis IG, Tony Sycamore.
Adapun yen Jepang masih berada di bawah tekanan, yakni terdepresiasi 0,3 persen terhadap euro ke posisi 185,56 yen per euro atau menyamai rekor terendah yang dicapai pekan lalu. Terhadap dolar AS, yen melemah 0,2 persen menjadi 158,68 per dolar alias mendekati level terlemah 18 bulan di 159,45.
Tekanan terhadap yen dipicu oleh faktor domestik, termasuk kebijakan fiskal Jepang. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi pada pekan ini mengumumkan pemilu kilat dan menjanjikan langkah-langkah pelonggaran fiskal. Di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) memulai rapat kebijakan moneter dua hari pada Kamis ini. Namun, pelaku pasar memperkirakan tidak ada perubahan kebijakan, mengingat bank sentral ini baru saja menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan lalu. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
